BIDANG usaha film me­rupakan jenis usa­ha yang masuk ke dalam DNI (Daf­tar­ Negatif Investasi).


Dampaknya membuat bi­da­ng industri perfilman sulit mendapat bantuan investasi dari luar negeri. Namun ren­ca­na dihapusnya industri film dari DNI menimbulkan pro kontra.


Ekky Imanjaya, pengamat sekaligus akademisi film, ter­masuk yang pro. “Saya cenderung setuju dengan DNI film, asal aturan mainnya­ jelas dan ditegakkan dan di­awasi,” katanya.


Menurut Ekky, dengan di­bukanya industri film dari DNI nanti, yang paling diun­tung­kan adalah konsumen. Itu jika pembukaan DNI  bi­sa berjalan dan diawasi dengan baik.


Jika ini digarap serius ten­tu­nya selain konsumen akan ada banyak pihak lain yang di­untungkan. Misalnya daftar box office Indonesia.


Selama ini hanya dilihat ber­dasarkan jumlah penonton, bukan dari pendapatan. “Catatan box office selama ini hanya ada di filmindone­sia.or.id. Itu pun berdasarkan­ jumlah penonton (bukan jumlah pendapatan) dan hanya film Indonesia. Kalau dibuat transparan, misalnya­ di website resmi Dirjen Pajak, diberikan laporan yang bi­sa diakses publik dan real time. Ini akan sangat ba­gus­. Tidak hanya untuk sesama pelaku bisnis dan pemerintah, tapi juga untuk wartawan, akademisi, dan kritikus film seperti saya,” jelasnya.


Data itu bisa dipakai untuk­ banyak tujuan, termasuk pemantauan dan pengawas­an aturan main dan spectatorship.


Diketahui, akhir bulan lalu, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf me­mas­tikan DNI di bidang perfilman telah disepakati oleh pemerintah untuk dibuka.


Ini artinya investor asing bisa menanamkan modalny­a bidang industri perfilman yang terbagi dalam tiga sektor. Yakni produksi, distri­busi, dan exhibition atau bi­oskop.


Bagi para sineas, dibuka­nya DNI ini adalah angin se­gar. Selama ini para sineas lokal terbilang sulit mencari da­na untuk membuat film. Hasilnya produksi film lokal terhitung sedikit.


Diketahui, saat ini Indone­sia­ merupakan negara deng­an­ penduduk terbanyak keempat di dunia. Kurang le­bih Indonesia dihuni 250 juta penduduk pada 2015.


Dengan 250 juta jiwa, ma­ka Indonesia merupakan ne­gara dengan pasar yang men­janjikan untuk melakukan­ bisnis. Salah satunya sektor usaha film.


“Bioskop menumpuk di mal-mal Jakarta dan Jawa Barat. Dengan adanya modal asing dan aturan main yang jelas, bioskop akan tersebar ke daerah yang belum ada bioskop. Akan berpotensi me­nambah laba dan lebih banyak penonton di dae­rah­ terpencil (kalau perlu, hingga pulau terluar) berkesempatan menonton. Untuk produser film, artinya lebih banyak ‘toko-toko’ untuk menaruh ‘jualan’ mereka,” ka­ta Ekky lagi.


Meski Indonesia pasar po­tensial, tapi banyaknya masyarakat Indonesia masih­ belum diimbangi dengan jumlah layar bioskop yang memadai. Apalagi jumlah bi­oskop masih menumpuk di Jawa dan Jakarta.


Masuknya investasi sektor film ke Indonesia akan mem­bu­at jumlah bioskop, terutama di daerah akan bertam­bah. Di sisi lain juga akan mem­buka lapangan kerja baru yang lebih bervariatif di daerah. (MTV/B-6)