LAMANDAU –

BORNEONEWS, Nanga Bulik - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamandau melalui dinas kesehatan door to door datangi rumah warga mengambil sampel darah untuk dilakukan uji sampel keberadaan cacing filariasis.

Hal tersebut dilakukan karena pemerintah sedang melakukan Survey Darah Jari (SDJ) atau melakukan uji sampel keberadaan cacing filariasis, yakni cacing yang menyebabkan penyakit kaki gajah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lamandau, Rosmawati menjelaskan, SDJ hanya dilakukan pada malam hari, karena mikro filaria atau cacing filaria hanya mencari makan pada malam hari.

“Sehingga memudahkan untuk mengidentifikasi apakah orang tersebut di dalam tubuhnya terdapat cacing filaria atau tidak,” ungkap Rosmawati saat dikonfirmasi pada Jumat, 9 Desember 2022.

Rosmawati menambahkan masyarakat Lamandau sudah diberi obat pencegah atau pembasmi kaki gajah selama 5 tahun berturut-turut. Sehingga kegiatan ini merupakan upaya screening terhadap warga, apakah masih ada yang menderita atau tertular penyakit kaki gajah atau filariasis.

--page

Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing nematoda golongan filaria yang hidup di saluran dan kelenjar limfe, ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk melalui gigitan antara lain oleh nyamuk Anopheles, Aedes, Culex, Mansonia dan Armigeres.

“Filariasis tidak menyebabkan kematian secara langsung tetapi penyebab utama kecacatan,” sebutnya.

Surveilans dampak Filariasis ini dilakukan mulai November hingga Desember. Dalam kegiatan tersebut, pihak Dinkes hanya memilih sejumlah Puskesmas yang tersebar di seluruh Kabupaten Lamandau.

“Setelah semua sampel darah terkumpul, akan dikirim ke laboratorium Banjar baru untuk mendeteksi keberadaan cacing tersebut,” pungkasnya. (HENDI NURFALAH/B-7)