Dewan Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur mengecam adanya pungutan sejumlah uang oleh pihak SMA Negeri 1 Sampit kepada siswa dengan alasan apapun. Pungutan ini sangat membebani orang tua murid.


“Jangan lagi ada pungutan seperti itu, yang pada akhirnya nanti akan membebani orang tua siswa,” kata Sekretaris Dewan Pendidikan Kotim, Akmal Tamroh, Minggu (14/2/2016).


Dia mengatakan, program pihak sekolah maupun komite sekolah yang berkaitan dengan ekstra kurikuler maupun intra kurikuler, itu sah-sah saja. Namun jangan sampai membebani orang tua siswa. Selain membebani orang tua siswa, adanya pungutan ini juga melenceng dengan apa yang digaungkan pemerintah ddaerah selama ini yakni pendidikan gratis bagi semua kalangan, terutama bagi kalanngan kurang mampu.


“Les yang dilakukan sekolah, apapun namanya itu adalah untuk memperdalam mata pelajaran yang telah diajarkan, bukan menambah. Jadi untuk apalagi ada ungutan kepada siswa,” ujarnya.


Seperti diketahui, pihak SMA Negeri 1 Sampit memungut uang Rp334.340 per siswa. Dengan alasan dana yang dikumpulkan kepada ratusan siswa kelas XII ini dipergunakan untuk biaya try out sebanyak dua kali sebesar Rp16 juta, transport guru pembina Rp12.720.000, konsumsi Rp21.600.000, pengadaan materi pengayaan Rp9 juta, piket harian Rp,4 juta, selanjutnya keamanan dan kebersihan Rp4,8 juta.


Pihak sekolah membebankan kepada siswa sebagian anggaran yang dibutuhkan untuk persiapan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tersebut. Sehingga para orang tua siswa keberataan dengan adanya pungutan itu karena sangat membebani mereka. Para orang tua berpendapat, sekolah sudah memiliki anggaran, kenpa harus dibebankan lagi kepada orang tua siswa.


Kepala SMA Negeri Sampit Sampit Darma Setiawan mengtatakan, adanya pungutan sejumlah uang kepada masing-masing siswa kelas tiga yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian nasional berbasis online itu, diantara untuk membayar honor guru prifat, karena mengajar diluar jam sekolah. Begitu juga biaya lain-lainnya.


“Misalnya les privat, guru mengajar di luar jam mereka, makana kami kasi honor tambahan, dan transportasi. Begitu juga untuk biaya penggandaan soal pengayaan itu,” ujar darma.

Dia mengaku, adanya pungutan tersebuut juga sudah dilaporkan kepada kepala dinas dan disepakati oleh orang tua siswa. (FI/m)