MASYARAKAT Suku Dayak Ka­­limantan Tengah memiliki ma­­ta pencarian utama de­ngan berladang. Proses pembersihan lahan untuk men­jadi tempat berladang bia­sanya dilakukan secara go­tong royong dengan memben­tuk suatu kelompok.


Anggota kelompok biasanya me­­rupakan tetangga, warga se­kitar atau memiliki hubung­an persahabatan. Jumlah ang­gota kelompok biasanya 12-15 orang. Mereka secara ber­giliran membuka hutan ba­gi ladang setiap anggotanya.


Namun, fungsi kelompok itu hanya sebatas membuka lahan. Sedangkan pekerjaan se­lanjutnya seperti merawat ser­ta menjaga tanaman menja­di tanggung jawab pemilik la­­han.


Untuk merawat tanaman sela­ma proses pertumbuhan, pemilik biasanya tinggal di ladang ber­­sama anggota keluarganya de­ngan membangun pondok se­derhana. Mereka akan menetap di tempat itu sampai masa pa­nen selesai.


Sedangkan untuk melindungi ladang dari serangan binatang liar seperti babi hutan, rusa, dan kera, di sekitar ladang orang Dayak Kalimantan Te­ngah pada umumnya dipasang pe­rangkap. Perangkap itu oleh Suku Dayak Ngaju diberi nama don­dang atau oleh Suku Dayak Ma’anyan disebut pusi.


Dondang atau pusi merupa­kan perangkap yang dibuat da­ri sebilah bambu. Ujung bam­bu diruncingi seperti mata tom­bak, dan yang dapat lepas se­cara otomatis bila tali yang meng­hubungkannya ditabrak bi­natang. Supaya alat itu lebih mematikan biasnya sering diberi racun. (B-3)