Dari pengamatan Borneonews, kegiatan sehari-hari warga eks ormas terlarang Gerakan fakar Nusantara (Gafatar) di Dusun Kuwaki, Desa Kertamulya, Kecamatan/Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, adalah bertani. Patut diakui, keterampilan bercocok tanam mereka tampak di atas rata-rata masyarakat sekitar.


Mereka berkebun secara mandiri, berbagai sayuran se-perti buncis, kacang panjang, jagung, cabai, dan buah pepaya tumbuh subur di lahan pekara-ngan mereka yang tidak seberapa luas. Mereka bukan kelompok binaan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Sukamara atau bahkan masuk dalam daftar penerima bantuan baik berupa pupuk serta altan dan mesin pertanian (alsintan).


“Tidak ada, mereka belum tersentuh oleh kita dan kita pun baru tahu keberadaan mereka di sana,” kata pelaksana Tugas (Plt) kepala Distanak Kabupaten Sukamara, Supratman.


Makan jagung


Menurut sumber dari Peme-rintahan Desa (Pemdes) Kertamulya, sebenarnya para anggota eks Gafatar itu mempunyai lahan lain seluas 20 hektare (ha) di sekitar permukiman mereka. Namun, baru 70 x 80 meter yang terbuka dan digarap. Selain itu, lahan 20 ha tersebut belum dibuatkan alas hak kepemilikan.


Para kepala keluarga eks Gafatar itu, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, hanya mengandalkan dari hasil berkebun. Bahkan, untuk mencukupi hidup mereka tampak sangat kekurangan.


Borneonews yang mencoba masuk ke dalam permukiman mereka sangat terkejut tanpa sengaja melihat salah satu pe-nghuninya pada jam makan siang hanya dihidangkan jagung rebus.

Malah, satu tongkol jagung sampai dibagi menjadi tiga sampai empat potong.


Walau begitu, ada satu keluarga yang mencoba mencari tambahan pengasilan. Yaitu, dengan berjualan es cincau di samping SMPN 4 Jalan, Jilik Riwut, kota Sukamara. (B-1)

Laporan : Koko Sulistiyo