Sampai sejauh ini pro dan kontra terhadap keberadaan warga eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) terus bergulir. Kondisi ini terang saja meninggalkan rasa was-was dan tidak tenang dari warga eks Gafatar di sejumlah daerah. Salah satunya warga eks Gafatar yang berada dan bermukim di Desa Tangkahen, Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis).

Keberatan dari sejumlah pihak terhadap warga eks Gafatar ini terang saja mendapat tanggapan dari Koordinator Bidang Pertanian, Eks Gafatar, Desa Tangkahen, Samsudin kepada wartawan media ini, Selasa (16/2) kemarin. Terkait kondisi pro kontra tersebut, pemerintah diminta untuk memberikan perlakuan adil kepada warga Eks. Gafatar.

Pasalnya, sampai sejauh ini tambah Samsudin, pihaknya sudah tidak lagi bergelut dan berkecimpung di organisasi mana pun. Warga Eks Gafatar memahami kesalahan yang sempat terjadi dan tidak akan mengulangi kejadian tersebut. Sebagai warga negara yang patuh dan taat hukum, pihaknya pun telah mendapatkan pembinaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pulpis dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulpis.

Perlakuan adil pemerintah terhadap warga Eks Gafatar merupakan semangat kepada pihaknya untuk kembali menata hidup dengan baik dan benar. “Salam damai dan sejahtera. Walaupun sepahit-pahitnya keputusan pemerintah untuk memulangkan kami Eks Gafatar, namun kami sebagai petani sampai hari ini tetap menanam dan merawat tanaman. Semoga berkat dari Tuhan tetap bersama kami,” kata Samsudin kepada wartawan koran ini.

Kondisi tersebut kata Samsudin, sebagai bukti bahwa mereka tidak main-main dalam program kedaulatan dan ketahanan pangan. Meskipun sampai sejauh ini tidak ada keberatan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulpis terhadap aktivitas pertanian mereka, namun pihaknya masih sangat merasa was-was dan tidak tenang dalam menjalankan aktivitas pertanian dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan.

Lebih lanjut disampaikan Samsudin , "Peranan petani sangat penting untuk bangsa yang sedang mengalami krisis pangan ini. Kami sebagai anak-anak bangsa melihat kondisi itu, namun apa daya program ketahanan pangan yang kami kedepankan malah dianggap sepele,” kata Samsudin. (ink/*)