KAI Hadran itu sungguh gagah berani. Bukan hanya tentara Jepang dan Belanda yang dilawannya. Tetapi di usianya yang sudah 86 tahun ia masih sanggup menghadang truk-truk milik perusahaan yang melaju, yang meninggalkan bergulung-gulung debu.
Kai Hadran adalah sesosok manusia yang kini sudah renta. Tetapi sorot mata dan ucapannya menghentak dan menghujam siapapun yang dihardiknya.
Maklumlah, dia seorang veteran, bekas pejuang melawan penjajah. Menurut pengakuannya, dia adalah mantan ajudan pahlawan nasional, Tjilik Riwut.
Kai Hadran, kini tinggal di Desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Ia tak bisa tinggal diam melihat warga setiap hari mandi dan berselimut debu. Kalau hujan turun, jalan di kampungnya menjadi seperti kubangan kerbau.
Celakanya, jalan di desa hancur karena ratusan truk milik berbagai perusahan yang ada di kawasan itu melaju tak kenal ampun. Warga seolah tak berdaya. Pemerintah desa pun antara ada dan tiada.
Kegeraman dan kejengkelan Kai Hadran kepada para pengusahapun memuncak. Ditancapkannya bendera merah putih di tengah jalan yang rusak itu.
Dan, berdirilah ia tegak di sana. Dihadangnya truk-truk yang tak tahu tata krama itu. “Panggil bos kalian! Perbaiki jalan kami ini. Jangan sengsarakan warga kami. Jangan biarkan kami menghirup debu akibat ulah truk-truk kalian itu..”
Entah dalam beberapa hari ini, sudah berapa truk yang ia hentikan. Entah sudah berapa orang sopir truk yang dia hardik.
Ia merasa, warga desanya dijajah oleh mereka secara semena-mena. Perusahaan yang beroperasi di desa itu tampaknya dikelola dan dimiliki oleh orang-orang yang tak punya perasaan, buta, dan tuli, tak punya kepekaan atas penderitaan warga.
Kai Hadran adalah simbol pejuang sejati. Ia tidak minta upeti. Ia tidak minta dikasihani. Ia hanya minta supaya para pengusaha yang memiliki truk-truk itu memperbaiki jalan yang setiap hari mereka lalui. Ia hanya minta agar para pemilik truk tidak berlaku seperti penjajah.
Dan, pria yang sudah renta itu hanya bisa menancapkan bendera merah putih. Dengan cara itu ia mengingatkan, semua kita adalah anak bangsa. Punya hak yang sama untuk menjadi sejahtera di tanah merdeka.


