Bupati Katingan Ahmad Yantenglie bersama isteri, Endang Susilawatie Ahmad Yantenglie, meninjau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mas Amsyar Kasongan.


Pada kesempatan itu bupati menyempatkan diri berbincang dengan pasien yang sedang menjalani rawat inap di salah satu bangsal. Kemudian orang nomor satu di Bumi Penyang Hinje Simpei juga meninjau sejumlah ruangan dan peralatan medis.


Menurut pantauannya, bupati menilai jika dilihat dari sisi sarana dan prasarana di rumah sakit tersebut, memang masih banyak yang harus dibenahi. 


"Solusi yang kita harapkan adalah bagaimana membenahi sarana dan prasarana yang sudah ada ini supaya lebih efektif. Kita harapkan juga, sistim penganggarannya seperti itu," kata Ahmad Yantenglie yang saat itu juga didampingi Kepala RSUD Mas Amsyar Kasongan Nor Sianturi.


Selain itu, dia juga menekankan perlunya peningkatan alat penanganan medis atau alat kesehatan (Alkes). Sebab, ada beberapa peralatan yang masih tidak dimiliki sehingga terkendala dalam mendeteksi penyakit.


"Alkes itu menjadi kunci rumah sakit, karena untuk mendeteksi penyakit seseorang itu harus akurat. Kalau salah, maka cara pengobatannya juga akan keliru. Selama ini masih bergantung dengan laboratorium atau peralatan di rumah sakit lain, karena kita belum punya," sebutnya.


Melirik sisi manajemen, pria yang juga pernah menjabat sebagai legislator itu menilai kedepannya juga perlu di tata lebih lanjut bagaimana sistim pelayanannya. Kalau memang efektif, dia berharap bisa menggunakan IT antara ruangan sehingga informasi-informasi berjalan baik tanpa harus manual seperti saat ini. 


"Selain itu, pengelolaan persampahan dan tata air lingkungan di rumah sakit harus dibenahi agar memenuhi standar akreditasi,l imbuhnya.


Berkaitan dengan sejumlah permasalahan itu, dia meminta pada Direkrur RSUD Mas Amsyar Kasongan agar membenahi sisi peralatan kesehatan, sarana dan prasarana serta tenaga kesehatan supaya bisa memenuhi standar akreditasi. Salah satunya dengan mengefektifkan penggunaan ruangan dan pembenahan sarana lain yang memang harus dilakukan oleh pihak manajemen.

 

Dia mengakui memang kondisi sejauh ini bak simalakama, di satu sisi mau mengejar akreditasi, di lain sisi rumah sakit ini akan pindak ke lokasi baru. Kalau membangun baru di lokasi ini dan kemudian pindah, maka bangunan yang ditinggalkan bakal mubazir. 


"Harapan kita bagaimana mengefektifkan ruangan yang ada ini dan dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga bisa memenuhi standar akreditasi," terangnya.


Terkait sempat kosongnya stok obat, menurutnya hal itu karena masalah teknis. Mungkin karena adanya pelantikan Direktur RSUD yang baru, sehingga proses administrasi agar terlambat. 


"Ini juga menjadi pengalaman kita, terlalu akhir tahun inilah akibatnya. Direktur RSUD harus ditetapkan dahulu sebagai Kepala BLUD. Kalau belum, maka tidak bisa mengeluarkan anggaran dari BLUD. Namun semua sudah diselesaikan dan mudah-mudahan bisa berjalan. Harapan kita, stok obat jangan sampai kosong, karena sangat dibutuhkan pasien," pungkasnya. (rul/m)