PENGASAPAN atau fogging ternyata tidak efektif mencegah demam berdarah dengue (DBD). Karena, pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa saja, bahkan membuat nyamuk resisten atau kebal.

“Fogging selain biayanya mahal, tidak begitu signifikan memberantas jentik nyamuk.” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Rubaeah, Rabu (17/2/2016).


Selain itu, dalam Jurnal Epidemiology 1992, menyimpulkan, ada hubungan antara paparan malation dengan kejadian kelainan gastrointestinal (saluran cerna).

Perempuan hamil yang terpapar malation mempunyai resiko 2,5 kali lebih besar dari anaknya menderita kelainan saluran cerna. “Malation juga diduga mempunyai peran terhadap 28 gangguan, mulai dari gangguan gerakan sperma hingga kejadian hiperaktif pada anak,” katanya.


Tidak hanya itu, lanjut Rubaeah, penggunaan solar yang menjadi bahan pengencer malation juga berbahaya. Hasil pembakarannya mengikat hemoglobin (Hb) dalam darah ketimbang oksigen.

“Racun hasil pembakarannya mengakibatkan radang paru-paru, penyumbatan bronchioli, serta iritasi dan produksi lendir berlebihan pada saluran nafas,” katanya.


Menurut Rubaeah, pihak pembuatan bahan fogging telah melakukan uji keamanan, tetapi setiap masyarakat harus menyadari bahwa ada resiko yang akan ditanggung apabila terpapar bahan-bahan tersebut.


Oleh karena itu, lanjut Rubaeah, upaya untuk mencegah penyebaran DBD di masyarakat langkah efektif yang dapat dilakukan adalah melalui pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M plus. PSN hendaknya rutin dilakukan minimal seminggu sekali di setiap rumah oleh pemiliknya.

Caranya adalah dengan 3M plus yakni menutup tempat penampungan air, menguras dan menyikat bak mandi, mengubur barang bekas seperti kaleng bekas, botol minuman, ban bekas maupun sampah yang memungkinkan air tergenang. (Ant/B-2)