MATINYA ikan di keramba masyarakat yang diduga akibat tercemarnya air Sungai Jelai berdampak pada industri kerupuk amplang.
Makanan khas Kabupaten Sukamara yang berbahan dasar ikan air tawar itu kini harus beradu dengan tingginya harga ikan sungai yang terus melambung.
Selain mahal, ikan sungai juga sulit didapat. Seperti yang dituturkan, Siti, pemilik industri rumahan kerupuk amplang di Kelurahan Padang, Kecamatan Sukamara.
“Sejak ikan di Sungai Jelai banyak yang mati, mencari ikan haruan (gabus) menjadi sulit. Walaupun ada harganya mahal,” kata Siti, Rabu (17/2/2016).
Untuk menyiasati harga ikan yang semakin mahal, ia terpaksa mengurangi takaran ikan pada komposisi kerupuk amplangnya. Hal itu dilakukan untuk ,menghemat biaya produksi. Meski begitu, ia menjamin tetap mempertahankan kulaitas amplang buatannya agar pelanggan tidak kabur.
“Kita tetap usahakan harus menggunakan bahan dasar ikan haruan karena kualitas dagingnya bagus. Sehingga amplang yang dibuat bisa lebih gurih,” ujar Siti.
Ia melanjutkan, pembuatan kerupuk amplang sebenarnya bisa menggunakan ikan sungai jenis lain, namun rasa tidak segurih ikan haruan. Karenanya, Siti tetap berusaha menggunakan ikan haruan sebagai bahan dasar pembuatan kerupuk amplang miliknya. (MG-13/B-3)


