JAKARTA –

BORNEONEWS, Brussels - Uni Eropa pada Kamis (29/12) belum mengambil keputusan perihal syarat wajib tes COVID-19 bagi pelaku perjalanan asal China.

Akan tetapi, Amerika Serikat, Jepang, dan Italia sudah mengumumkan akan memberlakukan persyaratan COVID-19 baru bagi penumpang asal China, termasuk hasil tes negatif.

Italia pada Rabu (28/12) menjadi negara Barat pertama yang menerapkan aturan tersebut untuk penumpang China, yang mengubah kebijakannya soal nol-COVID.

Sementara itu, Kerajaan Inggris kini sedang mempertimbangkan pembatasan pada para penumpang dari China, kata kepala pertahanan mereka pada Kamis.

Otoritas kesehatan di negara-negara Uni Eropa membahas isu tersebut dan memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan guna menentukan sikap bersama mengenai aturan perjalanan.

--page

"Kami harus bertindak bersama-sama dan melanjutkan pembicaraan kami," menurut pernyataan yang dikeluarkan usai pertemuan tersebut.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) mengatakan varian COVID-19, BF.7, yang mendominasi China, kini sudah muncul di Eropa.

"Kami akan tetap waspada. Jika perlu, kami siap mengambil langkah darurat," katanya.

Pakar ECDC menjelaskan belum diperlukan tes COVID-19 bagi pelaku perjalanan asal China. 

ECDC menilai bahwa riwayat penyakit dan kekebalan dengan vaksinasi COVID di Eropa tinggi, sehingga lonjakan kasus di China tidak akan berdampak besar di Eropa.

--page

China baru-baru ini mengumumkan akan mulai melonggarkan pembatasan COVID-19 dan memilih untuk "hidup berdampingan dengan COVID" setelah tiga tahun menerapkan penguncian wilayah, penutupan perbatasan, dan kewajiban karantina.

Sumber: Anadolu/ANTARA