Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus mengupayakan pengembangan industri hilir karet. Produksi karet selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah dibanding diolah lagi menjadi produk turunannya.
“Kami akan dorong terus agar penyerapan karet alam ini bisa diserap pasar dalam negeri. Sehingga petani bisa menikmati yang mereka lakukan,” kata Kepala Dinas Perkebunan, Kamaludin di sela kegiatan Pemkab Kobar. Rabu (17/2/2016).
Penyerapan karet untuk kebutuhan domestik pada tahun 2015 hanya mencapai 18% dari total produksi karet alam nasional sebesar 3,1 ribu ton. Sementara 82% sisanya diekspor ke luar negeri dengan nilai ekspor sebesar US$4,7 juta.
Penggunaan karet alam untuk proyek infrastruktur yang disiapkan untuk dock fender dalam program pembangunan fasilitas pelabuhan, bahan campuran aspal jalan, rubber pads rel kereta api dan bantalan jembatan, bendung karet dan komponen water stop dalam pembangunan bendungan, serta komponen pintu irigrasi dan pengembangan rawa.
“Jika serapan dalam negeri tinggi, otomatis fluktuasi harga juga akan aman,” ucap Kamaludin.
Di luar itu, kata Kadis, pembangunan infrastruktur nasional, produk berbasis karet alam lainnya dapat dikembangkan di dalam negeri seperti karpet untuk sapi, genteng karet, paving block, bearing bangunan anti gempa, penguatan tebing, kasur lateks, dan lainnya.
“Pasar-pasar itulah yang akan kita bidik. Sampai saat ini, usaha paska panen selalu jadi kendala,” katanya.(CR-1/B-12)


