Pada fase eksodus ke luar Pulau Jawa, anggota eks ormas terlarang Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) menjual seluruh harta benda, termasuk rumah, yang ada di kampung halaman mereka.

Intinya mereka tidak mempunyai apa-apa lagi di tanah kelahirannya, bahkan orang-orang tercinta pun bisa ditinggal pergi begitu saja.


Kenapa mereka memilih Pulau Kalimantan? Ini terkait misi Gafatar yang dibungkus aktivitas pertanian. Pilihan jatuh pada Kalimantan karena masih memiliki lahan tidur yang cukup luas.


Latar belakang pendidikan dan status sosial anggota eks Gafatar di Dusun Kuwali, Desa Kertamulya pun bermacam-macam, bahkan beberapa di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi dan menyandang gelar starata satu (S-1), seperti sarjana teknik, sarjana ekonomi, dan sarjana komputer.


Termasuk salah satu anggota eks Gafatar berinisial ZM. Di smaping pernah “makan bangku kuliahan”, juga menguasai empat bahasa. Terkait bahasa apa saja yang dikuasai, sumber di Pemerintahan Desa Kertamulya mengatakan, di antaranya Bahasa Inggris dan Mandarin.

Tidak sekolah formal


Tetapi, anak-anak anggota eks Gafatar di Dusun Kuwali pendidikannya tidak boleh keluar dari pagar kampung mereka, sehingga tidak dapat mengenyam pendidikan sekolah formal.

Padahal, tidak seberapa jauh dari mulut jalan masuk perkampu-ngan mereka, terdapat sebuah sekolah dasar negeri (SDN).


Guru di SDN tersebut juga mengnakui tidak ada anak-anak dari perkampungan eks Gafatar yang menjadi muridnya. “Tidak ada yang bersekolah di sini,” kata guru perempuan yang enggan ditulis namanya.


Ternyata, proses belajar mengajar anak-anak mereka menggunakan metode home schooling (pendidikan di rumah/privat). Gurunya adalah dari kalangan mereka sendiri.


Seorang anak perempuan yang berumur belasan tahun dan selayaknya duduk di bangku SMP menegaskan hal itu. “Kami sekolah kok. Ada yang SD dan SMP. Tapi, kami private di rumah,” katanya.


Ia pun menantang Borneonews untuk mengajukan soal apapun yang diajarkan di sekolah umum. Bocah tersebut juga tidak risau jika kelak harus kuliah dengan syarat ijazah sekolah formal. ‘’Kan ada ujian kesetaraan. Tinggal daftar saja,” ujarnya, sambil pergi dengan berlari.
(B-1)

Laporan : Koko Sulistiyo