Delapan orang meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kalimantan Tengah (Kalteng). Mereka adalah bagian dari total 541 orang penderita DBD pada periode Januari hingga pertengahan Februari 2016.
Kasus DBD di awal tahun yang dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng itu terbilang luar biasa. Pasalnya, sepanjang 2015 saja hanya 1.506 penderita dan 13 orang meninggal, sedangkan pada 2014 terdapat 882 penderita dan 12 orang meninggal.
“Sejak November 2015 sampai Januari 2016, terjadi kecenderungan peningkatan kasus DBD. Angka kesakitan DBD pada 2015, sebesar 60,94 per 100 ribu penduduk. Sementara pada bulan Januari 2016, sebesar 20,88 per 100 ribu penduduk,” ungkap Kepala Dinkes Kalteng, Suprastidja Budi, usai Apel Kesiagaan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan serta Penanggulangan DBD di halaman Kantor Gubernur, Kota Palangka Raya, Rabu (17/2/2016).
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kalteng dr Endang Narang, merinci, pada Januari 2016 terdapat 496 orang penderita DBD, tujuh di antaranya meninggal. Kemudian Februari sampai Senin (15/2/2016), tercatat 45 orang dan satu di antaranya meninggal.
Pada Januari, yang meninggal terjadi di Kota Palangka Raya (2 orang), Kabupaten Gunung Mas (1), Kapuas (3), dan Barut (1). Sedangkan satu yang meninggal pada Februari, terjadi di Gunung Mas.
‘’Yang meninggal rata-rata anak-anak mulai usia 4, 5, 7, 8, hingga 14 tahun,” ungkap Endang.
Khusus untuk Kabupaten Kapuas, menurut Suprastidja Budi, kini dalam proses status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. Yaitu, untuk empat Kecamata: Kapuas Barat, Tamban Catur, Selat, dan Kapuas Kuala.
Fase demam berdarah
Endang Narang menjelaskan beberapa tingkat atau fase gejala DBD yang bisa menyebabkan kematian. Yaitu, diawali demam dengue (DD) selama lima hari berturut-turut.
Jika demam terus tinggi, maka akan terjadi pendarahan di bawah permukaan kulit. Statusnya menjadi DBD. Jika sudah DBD, perjalanan penyakit semakin cepat lantaran pembuluh darah sudah pecah.
“Nah bila ini terjadi pada usia anak-anak, maka akan sampai ke terminal ketiga, yakni DSS (dengue shock syndrome). Kalau sudah demikian, maka bisa gameover (meninggal dunia),” ungkapnya.
Sedangkan selama ini yang terjadi, lanjut dia, kebanyakan penderita yang meninggal datang setelah berstatus DBD. ‘’Padahal, anjuran seharusnya adalah jika tiga hari panas tidak turun, segera datang ke dokter,’’ tandas Endang. (BY/TP/B-1)


