KETEGANGAN melanda para penumpang pesawat Boeing 737-400 milik Trigana Air rute Pangkalan Bun-Jakarta, Rabu (17/2/2016) pagi. Saat mengudara, oksigen di dalam kabin tiba-tiba menipis dan para penumpang mengalami sesak napas, lalu mencium aroma aneh.
‘’Udara di dalam kabin pe-numpang terasa sangat pengap, seperti di dalam ruangan kedap udara. Beberapa penumpang termasuk saya, mengalami kesulitan bernapas,” ungkap Gusti Imansyah, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Te-ngah, yang ikut dalam pesawat tersebut dan duduk di deretan kursi nomor tiga.
Pesawat tersebut terbang dari Bandara Iskandar-Pangkalan Bun pukul 08.00 WIB di tengah cuaca cerah. Sekitar pukul 09.00 WIB atau 20 menit sebelum mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, tiba-tiba para penumpang -- terutama yang duduk di bagian belakang -- merasakan guncangan hebat.
‘’Tiba-tiba AC seperti mati mendadak. Kemudian tercium bau aneh, kalau menurut saya mirip aroma be-lerang,” ungkap Imansyah yang duduk bersebelahan dengan Wakil Ketua Komisi B DPRD Kobar, M Syamsuri.
Di dalam pesawat itu juga terdapat anggota Komisi B Gusti Awaludin, Kabid Budpar Sartono, serta sejumlah jajaran pimpinan dan karyawan Citra Borneo Indah (CBI) Group.
Beberapa menit kemudian, lanjut Imansyah, masker oksigen darurat yang berada di bagian langit-langit kabin penumpang otomatis menjulur keluar. Namun, dalam kondisi panik, penumpang tidak ada yang meraih mas-ker yang menggantung di atas kepala tersebut.
‘’Para pramugari juga tidak memandu kami untuk menggunakannya. Sekitar dua menit kemudian barulah ada perintah dari pilot kepada pramugari agar memandu penumpang menggunakan masker,” jelas Imansyah.
Masalah kompresor
Ia menceritakan, selama sekitar 20 menit dalam kondisi pengap yang hebat, hanya ketegangan dirasakan oleh penumpang. Kru pesawat menyebutkan, gangguan pada kabin itu karena ada masalah pada kompresor udara.
Sekitar pukul 09.20 WIB pesawat itu berhasil mendarat. Para penumpang pun merasa lega. ‘’Saya rasanya trauma naik pesawat tersebut. Mungkin, nanti kalau mau balik ke Pangkalan Bun saya pilih penerbangan melalui Palangka Raya atau Banjarmasin menggunakan maskapai lain,” pungkas Imansyah. (B-1)
Laporan : Wahyu Krida


