LAMANDAU –

BORNEONEWS, Nanga Bulik – Pandemi Covid-19 merupakan pukulan telak bagi sejumlah dunia usaha, begitupun krisis global akibat perang berkepanjangan Rusia – Ukraina. Namun, kesulitan tersebut mampu dilalui dengan baik Citra Borneo Indah (CBI) Group.

Baru-baru ini, Chairman Citra Borneo Indah (CBI) Group yang juga selaku pemegang saham pengendali (PSP) PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, Haji Abdul Rasyid AS mengungkapkan rahasianya menjalani masa sulit tersebut.

“Pelaku usaha harus pandai dan bisa memanfaatkan peluang dalam masa pandemi Covid-19 dan krisis global,” beber Abdul Rasyid saat menjadi narasumber sebuah acara seminar daring.

Pendiri Rasyid Foundation itu menyebutkan, saat pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) semasa pandemi Covid-19, sektor komoditas tetap mendapat tempat dan dicari, sehingga pihaknya tetap bisa bertahan.

“Kami memperkuat usaha dan industri perkebunan (kelapa sawit), dan peternakan sapi secara integrasi dengan perkebunan,” ungkapnya.

--page

Berdasarkan pengalamannya, krisis sudah biasa ada dalam setiap kehidupan manusia. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia sejak awal Maret 2020, bukanlah yang pertama. Ia lantas mencontohkan, krisis multidimensi pada 1997-1998.

“Tetapi, akibat pandemi Covid-19 memang lumayan parah, sampai membuat berbagai bidang nyaris kolaps,” kata dia.

Saat itu, lanjut dia, dunia dan Indonesia tengah menghadapi musibah besar akibat pandemi virus Corona, yang menghajar tidak saja bidang kesehatan, tetapi juga perekonomian. Banyak sektor terpuruk, diantaranya dunia penerbangan, transportasi, pariwisata, perhotelan dan lain sebagainya.

“Hanya sektor tertentu yang bisa bertahan, diantaranya komoditas perkebunan, peternakan dan lainnya. Di luar itu, saatnya anak-anak muda pekerja keras dan cerdas, untuk menaklukan keadaan,” saran dia. 

Sebelumnya, Chief Financial Officer (CFO) SSMS, Hartono Jap mengatakan, memasuki tahun 2023 ini, kondisi industri sawit di Indonesia masih tetap menjanjikan. Ke depan, harga CPO masih berpeluang naik seiring meningkatnya permintaan dan adanya penurunan pungutan ekspor oleh Pemerintah. Dengan begitu, penjualan ekspor CPO masih cukup tinggi.

--page

“Sesuai kebutuhan, penjualan lebih banyak kepada PT Citra Borneo Utama (CBU), sebagai perusahaan refinery, yang 30 persen sahamnya dimiliki Perseroan,” ungkap dia.

Diungkapkannya, kinerja Perseroan yang positif pada tahun ke tahun baik di sisi operasional maupun finansial merupakan prestasi tersendiri. Pada saat pandemi Covid-19, PT SSMS masih bisa membagikan dividen Rp 290,42 miliar atau sejumlah Rp 30,49 per saham.

“Dividen yang dibagikan ini setara dengan 50 persen laba SSMS tahun lalu, yang tercatat sebesar Rp580,85 miliar,” sebutnya.

Perseroan juga menyisihkan Rp 116,79 miliar dari laba tahun lalu sebagai cadangan wajib. Sedangkan sisa laba sebesar Rp 174,26 miliar akan dibukukan sebagai laba ditahan. (HENDI NURFALAH/B-7)