BERKEBUN buah naga kini mulai banyak diminati masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal ini juga dilakukan Saidina (32 tahun), warga Desa Sungai Kapitan, yang juga sebagai Kepala Urusan (Kaur) Pemerintahan Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai.
Awalnya dia menanam dua batang buah naga untuk melengkapi keindahan tanaman bunga lain di halaman rumahnya. Ternyata, setelah dipelihara, tanaman yang mirip kaktus itu, memunculkan banyak buah.
“Maka, saya mencoba membuka kebun buah naga di lahan seluas 56 x 32 meter. Alhamdullilah, buahnya saat dipanen pertama bisa menghasilkan lebih dari 100 kilogram (kg). Sekarang mulai lagi dipanen karena buahnya sudah ada yang merah,” ungkap Saidina saat dikunjungi Borneonews di kebunnya, Kamis (18/2/2016).
Dia mengaku belajar berkebun buah naga dari buku dan internet. “Bibit buah naga saya beli dari teman, berupa batangan seperti bunga kaktus. Waktu menanam pertama, caranya seperti menanam batang singkong. Setelah tumbuh akarnya baru dipasang tiang penyangga,” tutur Saidina.
Pemeliharaannya pun ternyata tidak rumit, cukup dengan memberi pupuk kandang, terutama kotoran ayam yang banyak mengandung netron,” ungkap Saidina.
Dikawinkan
Supaya buah naga itu besar dan berisi, menurut dia, harus dikawinkan di saat bunganya mekar di malam hari. “Kan di tengah-tengah bunga ada dua kelamin. Yang satu mencuat ke atas, satunya lagi ke bawah. Dan, kenapa mengawinkannya harus malam hari, sebab kalau siang hari rebutan tumpang sari dengan lebah-lebah,” katanya.
Cara mengawinkannya, serbuk yang di bawah diambil, kemudian ditempelkan ke tengah kelamin bunga yang mencuat ke atas. Inilah yang bisa membuat buah naga ukurannya besar dan berisi.
‘’Kalau dibuarkan tumbuh secara alamiah dan dikawinkan, buahnya bisa kurang bagus,” ujar Saidina.
Menanam buah naga hingga panen, memerlukan waktu setahun. Bahkan, baru tujuh bulan saja bisa muncul kuncup bunga, lalu menunggu 45-60 hari untuk menjadi buah yang siap dipetik dan dimakan. (MW/B-1)


