PEMADAMAN listrik menjadi hal yang biasa terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Namun, pada Jumat (19/2/2016) siang terjadi pemadaman listrik secara total (blackout) selama berjam-jam.
‘Penyakit PLN’ yang terjadi pada Jumat siang itu terjadi lantaran ada pekerjaan konstruksi pengangkatan besi baja ringan yang menyentuh jaringan tegangan menengah (JTM) interkoneksi di Jalan Pasanah, Pangkalan Bun.
Pemadaman listrik total itu berefek domino, yang mengakibatkan Pembangkit Listrik Tenaga Bio Massa (PLTBM) milik PT Korintiga Hutani (KTH) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT Exploitasi Energi Indonesia (EEI) mengalami masalah pada sistem proteksinya masing-masing.
“Sehingga tidak bisa masuk, karena error proteksinya. PLTU Kumai estimasi bisa masuk pukul 18.00 WIB,” terang Manager PLN Rayon Pangkalan Bun, Purwanto, Jumat (19/2/2016).
Purwanto mengakui, saat ini kondisi daya listrik mampu di PLN, tengah mengalami defisit cukup besar. Lantaran, produksi daya di PLTU Kumai belum optimal dan adanya gangguan operasi di pembangkit milik PLN maupun pembangkit sewa atau swasta.
Selain itu, PLTBM milik PT KTH juga mengalami penurunan produksi. Produksi daya listrik di PT KTH ini dilatari oleh persoalan bahan bakar.
Akibat penalti yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PT KTH terpaksa tak mampu beroperasi dengan bahan bakar khusus dari Hutan Tanaman Industrinya (HTI).
Melainkan menggunakan bahan bakar kayu sembarang. “Saya sudah berupaya mengusulkan minta penambahan daya. Semoga dalam waktu dekat terealisasi. Sudah ditanggapi dan masih dalam proses. Kami usulkan direspon 5 MW” (RD/B-2)


