BORNEONEWS, Tamiang Layang - Acara bakar jagung pada malam pergantian tahun telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia, tidak terkecuali di Kabupaten Barito Timur dan kabupaten-kabupaten lain di sekitarnya.
Entah sejak kapan kebiasaan bakar-bakaran di malam tahun baru itu dimulai, namun tradisi ini membawa keberuntungan tersendiri bagi Eben Haisar Tefbana, petani jagung di Desa Balawa Kecamatan Paju Epat. Bagaimana tidak, dalam sehari menjelang akhir tahun 2022 dia berhasil menjual jagung sebanyak 7.000 buah.
"7.000 buah itu hanya penjualan di tanggal 28 Desember saja," ujarnya singkat saat ditemui, Selasa, 10 Januari 2023.
Untuk jagung manis grade A atau yang paling besar, Eben menjual dengan harga Rp2.000 per buah. Sedang grade B dijual Rp1.800 per buah dan grade C dijual dengan harga Rp1.500 per buah.
Jika penjualan dirata-rata pada harga grade B, maka paling tidak dalam sehari pria yang menyandang status sebagai Duta Petani Milenial ini dapat meraih omset Rp12,6 juta. Belum lagi hasil penjualan di hari-hari lain.
--page
"Pembeli datang dari Tanjung Kabupaten Tabalong dan beberapa kabupaten sekitar, mereka langsung datang ke kebun," ungkap Eben.
Pembeli mudah menjangkau kebun jagung miliknya karena hanya berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya yang menghubungkan Desa Jaweten dan Desa Balawa .
Meski penjualan jagung pada hari biasa tidak seramai saat menjelang malam tahun baru, namun Eben menilai peluang budidaya jagung manis masih sangat bagus. Apalagi saat ini petani yang menanam jagung manis di Barito Timur masih sedikit sedangkan potensi pasar atau konsumen sangat besar.
"Tapi secara umum budidaya komoditas hortikultura di Barito Timur mulai meningkat seiring kesadaran masyarakat akan kebutuhan pangan yang tinggi, ini juga menjadi peluang usaha yang menarik," jelas Ketua Kelompok Tani Anugerah Alam Lagai ini.
Karena itu, sebagai Duta Petani Milenial, Eben mengajak generasi muda agar tidak malu atau gengsi menekuni wirausaha di bidang pertanian. Menurutnya, usaha pertanian merupakan salah satu jenis usaha yang tahan diterpa krisis moneter termasuk saat pandemi covid-19 beberapa waktu lalu.
--page
"Saat krisis berbagai jenis usaha mengalami kemacetan bahkan beberapa bangkrut, tapi dalam kondisi seperti ini justru usaha di bidang pertanian mampu bertahan bahkan mengalami peningkatan karena semua butuh makanan, sekalipun krisis orang harus tetap makan untuk bertahan hidup," ucapnya. (BOLE MALO/H)









