Warga Desa Kerta Mulya sempat bertanya-tanya terkait aktivitas sehari-hari anggota eks ormas terlarang Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang mendirikan permukiman di wilayah mereka. Pasalnya, sehari-harinya para pria dewasa di permukiman itu jarang terlihat.


Hasil penelusuran Borneonews, mereka saban pagi hingga menjelang sore berada di kebun yang tidak seberapa jauh dari rumah-nya.

Anehnya, menurut data Kesatuan Bangsa politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Sukamara, jumlah warga yang menghuni permukiman ini 13 kepala keluarga (KK) dan 42 jiwa, namun rumah yang berdiri hanya  tujuh buah.


Rupanya sebagian dari mereka membuka usaha kecil, seperti jualan es cincau, di daerah perkotaan Kabupaten Sukamara. Tepatnya di samping SMPN 1 Jalan Jilik Riwut, RT 01/03, Kelurahan Mendawai, Kecamatan Sukamara.


Di belakang tempat mereka berjuakan, ada barakan atau rumah petak permanen memanjang dengan puluhan kamar. Di situlah sebagain eks Gafatar tinggal.


Dua perempuan usia remaja tampak menjaga dagangan es cincau, di samping seorang pria yang berjualan batagor. Kedua-nya berdampingan. Me-reka sama-sama penghuni barakan itu, karena telihat saat keluar-masuk barakan  untuk mengambil keperluan dagangannya.

Mondari-mandir


Remaja putri penjual es cincau mengakui bagian dari warga eks Gafatar di Desa Kertamulya. Menurutnya, saat sore hari mereka bersama keluarganya pulang ke Kertamulya, tetapi ketika malam tiba kembali untuk tidur di barakan.


Mengapa harus mondar-mandir seperti itu, alasannya karena mereka memiliki keluarga di Kertamulya sekaligus untuk belajar privat. Maklum, anak-anak mereka tidak mengenyam pendidikan di sekolah umum.


Remaja putri itu mulai gelisah, sesekali masuk ke barakannya, sementara yang lain menatap Borneonews dengan curiga. Pria penjual batagor pun se­sekali melirik dan menyimak perbincangan kami.


Saat remaja perempuan itu kembali, ia langsung berucap, “Abang jangan tanya-tanya saya lah,” sambil terus berlalu, disusul yang lainnya.


Tukang batagor bersikap sama, tertutup dan tidak bersedia memberikan ke-terangan. “Saya engga tahu perihal itu,” tukasnya.


Seorang penghuni barakan mengaku tidak me­ngetahui kalau tetangganya ada anggota eks Gafatar. “Saya jarang berkomunikasi bahkan saya juga tidak tahu kalau mereka adalah eks Gafatar,” ujarnya, singkat. (B-1)

Laporan : koko sulistiyo