Proyek perbaikan Jalan Ir Juanda di Desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, Kotim, masih lama. Padahal kerusakan jalan sudah sangat parah. Solusi sementara warga terpaksa harus urunan dana perbaikan.
Ketua Komisi IV DPRD Kotim Jainudin Karim menjelaskan, setelah musyawarah pada Jumat (19/2/2016) yang dihadiri warga, kepala desa, camat, anggota Komisi IV DPRD Kotim, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, pemilik pelabuhan pribadi, dan pengusaha angkutan, dicapai kata sepakat untuk bersama-sama memperbaiki kerusakan jalan.
“Sudah selesai, tidak ada lagi pemortalan. Pengusaha pemilik terminal pelabuhan khusus (tersus) dan terminal untuk kepentingan sendiri (TUKS), serta transoprtir pemilik angkutan berat, siap membantu penanganan jalan sementara agar bisa fungsional,” kata Jainudin Karim saat dihubungi, Minggu (20/2/2016).
Bantuan akan diberikan melalui dana community depelovment (CD) atau dana sosial perusahaan, yang dikumpulkan melalui Dinas PU. Selain itu, juga ada dana urunan secara pribadi dari anggota Komisi IV DPRD Kotim, Camat Mentawa Baru Ketapang, dan kepala desa.
“Harapan kami melalui dana itu, bisa dilakukan perbaikan di titik-titik yang mengalami kerusakan parah. Sebelum pelaksanaan lelang proyek,” ujar Jainudin.
Permasalahan kerusakan jalan di sana mencuat setelah seorang veteran bernama Hadran, 86 tahun, melakukan pemortalan jalan dengan duduk dan menancapkan bendera Merah Putih di tengah jalan, untuk menghadang setiap angkutan truk yang melintas.
Aksi itu karena sudah jengkel dengan kerusakan jalan akibat hilir mudiknya aktivitas angkutan dari dan ke pelabuhan tersus.
"Jalan kami rusak tidak diperbaiki. Tolong perhatikan kondisi jalan di sini. Jangan dibiarkan rusak," ujar Hadran.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kotim Masran Hadi menjelaskan, jalan tersebut akan diperbaiki tahun ini. Dia meminta masyarakat untuk bersabar dan memahami kondisi itu.
“Saat ini sedang dilelang, tetapi tidak bisa cepat, kemungkinan April atau Mei nanti. Dananya Rp900 juta untuk memperbaiki sejumlah titik kerusakan sepanjang sembilan kilometer dengan konstruksi agregat. Kalau untuk memperbaiki dengan rigit beton, diperkirakan memerlukan dana hingga Rp25 miliar," jelas Masran. (M RIFQI/m)


