PANGKALAN BUN - Pesawat Garuda Indonesia dengan rute Pangkalan Bun-Semarang terlambat berangkat sekitar dua jam akibat cuaca buruk di Bandara Rahadi Oesman, Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (21/2/2016).
Pesawat terpaksa kembali ke Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat lantaran burung besi jenis ATR 72-600 itu tidak bisa mendarat di Bandara Rahadi Oesman.
"Pesawat sudah terbang dari Pontianak menuju ke Ketapang, namun tidak bisa mendarat karena di Bandara Rahadi Oesman, Ketapang hujan deras," kata Manajer Branch Office Garuda Indonesia Pangkalan Bun, Supriyadi.
Selain menyebabkan keterlambatan untuk rute Pontianak-Ketapang, pesawat dengan nomor penerbangan GA 7532 juga terlambat berangkat menuju rute selanjutnya, Pangkalan Bun-Semarang.
Dalam sehari, terang Supriyadi, pesawat Garuda Indonesia jenis ATR 72-600 itu melayani rute Pontianak-Ketapang, Ketapang-Pontianak, Pontianak-Pangkalan Bun dan Pangkalan Bun-Semarang. Jadi, jika salah satu rute sebelumnya mengalami keterlambatan, otomatis akan berpengaruh dengan rute sesudahnya.
"Dampaknya, Pangkalan Bun-Semarang juga terlambat karena dilayani dengan pesawat yang sama," kata Supriyadi.
Berdasarkan jadwal penerbangan dengan rute Pangkalan Bun-Semarang, seharusnya pukul 13.40 WIB sudah take off (berangkat). Karena keterlambatan itu, pesawat yang akan membawa 70 penumpang tersebut baru berangkat pukul 16.00.
"Delay (terlambat) 2 jam 20 menit, kompensasi berupa minuman mineral dan makanan ringan sudah kami berikan," beber Supriyadi.
Meski pesawat jenis ATR 72-600 yang berkapasitas 70 penumpang tersebut mengalami keterlambatan sekitar 2 jam dari jadwal semula, imbuh Supriyadi, namun sejumlah penumpang bisa memahami hal itu karena alasan keterlambatan adalah cuaca buruk.
Sementara Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pangkalan Bun, Lukman Sholeh melalui Staf Bagian Operasional Yolanda Paramitha mengaku cuaca di sekitar Bandara Iskandar, Pangkalan Bun normal.
Yolanda memaparkan, sejak pagi hingga sore hari, kecepatan angin di sekitar Bandara Iskandar berkisar antara 2-3 Knot per jam dengan jarak pandang sejauh 8 Kikometer.
"Radar sempat menangkap adanya awan Cumulonimbus (CB) yang berbahaya untuk penerbangan, namun berada jauh dari bandara. Tidak berada di jalur penerbangan," jelasnya.(CR-1/m)


