KELANGKAAN jagung pipilan di Kabupaten Katingan berlanjut. Bahkan kini harga jagung pipilan lebih mahal dibanding harga beras.
Para pedagang di Pasar Kasongan menyebut jika jika kelangkaan jagung ini sudah berlangsung sebulan.
Amit seorang pedagang yang menyediakan pupuk dan makanan ternak mengaku biasanya jagung pipilan yang dijual Rp9 ribu/ per kilo, namun sejak jagung sulit dicari kini dia menaikkan harga jualnya menjadi Rp14 ribu.
“Kita juga heran dengan mahalnya harga jagung pipilan, sebab dari distributor sudah dipatok mahal sehingga kita juga menyesuaikan,” sebut Amit, Minggu (21/2/2016).
Amit mengatakan jika suplai jagung pipilan selama ini dipasok dari Jawa.
Sebab petani di Kalteng lebih memilih menanam jagung manis yang dipanen saat jagung muda lantaran harga jualnya lebih baik ketimbang jagung biasa.
“Kemarin kita hanya dapat 50 Kg jagung pipilan. Itupun sekarang tinggal sedikit karena banyak diborong warga yang memelihara ayam,” imbuhnya.
Terpisah, Marno warga Desa Buntut Bali, Kecamatan Pulau Malan menyebut jika dia dan warga lainnya selama ini membudidayakan jagung manis.
“Kalau kita tanam jagung biasa selain harus nunggu sampai tua juga biasanya harga jagung pipilan itu dihargai murah, mending kita tanam jagung manis saja, sebab kita manennya saat jagung masih muda,” katanya.
Marno mengaku jika harga jagung pipilan stabil dengan harga bersaing maka dia mengaku tertarik mengembangkannya.
“Mahalnya harga jagung pipilan mungkin tidak berlangsung lama, bisa saja dalam waktu dekat akan turun lagi. Tapi kalau jagung manis harganya bersaing dan cepat menghasilkan,” katanya lagi.
Satu biji jagung manis ukuran besar oleh pengepul dibeli Rp4.000 per biji, sedangkan harga beras kualitas rendah dijual pedagang Rp8 ribu per kilo.
Sedangkan beras lokal Pagatan Rp9 ribu-Rp10 ribu. “Hanya beras premium seperti siam unus dan rojo lele yang harganya lebih Rp10 rib,” tutur Nia penjual sembako di Pasar Kasongan.
(B-6)


