HARGA getah karet di tingkat petani di Ka­bupaten Barito Selatan tidak kunjung membaik.


Praktis, kondisi ini membu­at petani kelabakan. Kutuk, pe­tani karet di Desa Tampa­rak menyebut anjloknya har­ga karet ini sudah berlangsu­ng lebih 1,5 tahun.


“Harganya masih bertahan­ antara Rp4.500 sampai Rp5.000 per kilo,” kata Kutuk, Ming­gu (21/2/2016).


Dengan harga seperti itu bi­sa dibayangkan. Para petani harus kalang kabut membagi penghasilan supaya cukup untuk memenuhi kebutuhan hi­dup.


Meski harga BBM mengala­mi penurunan, tapi tidak ber­pengaruh terhadap harga ke­butuhan pokok.


Harga BBM sudah turun ta­pi harga sembako tidak mau turun lagi, sedangkan peng­hasilan juga turun.


“Saat ini harga kebutuhan ti­dak sebanding dengan har­ga­ jual karet,” ucapnya.


Dengan keadaan seperti ini banyak motor kreditan te­lah ditarik oleh dealer, ka­rena lebih baik membeli ke­butuhan hidup sehari-hari da­ri pada untuk membayar kredit.


“Kita berharap kepada pemerintah kabupaten agar bisa memantau harga kebu­tuh­an pokok, mengingat har­ga BBM sudah turun,” pin­tanya.


Radi petani karet lainnya di Km8 Desa Bundar menyebut ti­dak kunjung membaiknya harga karet dan melambung­nya harga sembako ini sang­at mencekik petani.


Turunnya harga karet amat sulit diprediksi karena pe­tani tidak bisa melihat har­ganya.


“Harga karet ditentukan oleh tengkulak, sedangkan me­reka hanya menerima ke­ten­tuan harga dari pabrik,” ucapnya.


Dia hanya bisa menerima saja tanpa bisa berbuat apa-apa.


Seharusnya ada sumber in­formasi tentang pergerakan­ harga karet, sehingga petani tidak buta informasi. (B-6)