Agus (32) ia hanya bisa tersenyum kecut saat menuturkan bagaimana hebatnya dampak menurunnya kualitas daerah aliran sungai (DAS) Arut hingga mengakibatkan ratusan pembudidaya mengalami kerugian besar.
Dalam hitungan jam, puluhan ton ikan jenis bawal, nila dan patin yang dipelihara dalam 40 lubang keramba pada pagi hari ditemuinya mengambang dan mati. Akibatnya, Rp140 juta kerugian harus ia tanggung dalam sekejap.
Menurut Agus, nominal kerugian itu hanya yang terjadi pada dirinya. Sementara kalau digabungkan dengan 180-an petani keramba di DAS Arut, kemungkinan nilainya mencapai miliaran rupiah.
Saat ini, Agus harus kembali membangun usahanya dari awal. Sembari itu, ia berdagang kecil-kecilan di dekat jembatan Kelurahan Baru. Ia pun tidak termasuk dalam lima kelompok yang mendapatkan bantuan bibit dan pakan dari pemerintah daerah.
“Saat ini hanya tersisa 12 lubang keramba dari 40 lubang yang saya miliki. Saya kembali merintis dari awal lagi,” ujar dia saat ditemui Borneonews di warung kecilnya, Minggu, (21/2/2016).
Terkait hal ini, Sekretaris Komisi B DPRD Kobar Mustafa Basyir lebih suka menyebut penurunan kualitas air tersebut dengan sebutan bencana air.
Ia mengelus dada ketika menjumpai fakta ratusan keramba-keramba pembudidaya sudah berada di atas lanting. Artinya, pembudidaya sudah tidak lagi melakukan aktifitas perikanan. Kalau pun ada, hanya beberapa lubang keramba yang berisi ikan.
“Pemberian bantuan berupa bibit dan pakan yang akan diberikan pada bulan April mendatang dapat menjadi stimulan untuk membangkitkan semangat pembudidaya yang turun.
Kemudian, lakukan pendataan, warga Das Arut prioritaskan, setelah itu baru ke yang lain, karena pendataan pembudidaya ini tidak berjalan baik, banyak pembudidaya yang tidak terdaftar di pemerintah kelurahan.”
(KK/B-12)


