Tidak ingin putrinya menjadi bahan pembicaraan masyarakat, ayah Intan pun menjodohkan anaknya dengan juragan rotan.
**********
PADA suatu hari, Kumbang Banaung mengungkapkan pera­saannya kepada Intan. “Intan, maukah engkau menjadi kekasih, abang?,” tanya Kumbang Banaung.


Mendengar pertanyaan itu, Intan terdiam. Hatinya sedang diselimuti oleh perasaan bimbang. Di satu sisi, ia suka kepada Kumbang Banaung, tapi di sisi lain ia telah dijodohkan ayahnya dengan juragan rotan. Ia sebenarnya tidak menerima perjodohan itu, karena juragan rotan telah memiliki tiga anak.

Namun, karena watak ayahnya sangat keras, ia pun terpaksa menerimanya.


“Ma... maafkan aku, bang!” jawab Intan gugup.


“Ada apa Intan? Katakanlah!” desak Kumbang Banaung.


Setelah beberapa kali didesak Kumbang Banaung, akhirnya Intan pun menceritakan keadaan yang sebenarnya. Intan juga mengakui bahwa ia juga suka kepada Kumbang Banaung, namun takut dimarahi ayahnya.


Mendengar cerita itu, Kumbang Banaung pun pulang ke rumah untuk menyampaikan niatnya kepada kedua orangtuanya agar segera melamar Intan.

“Kita ini orang miskin, anakku! Tidak pantas melamar anak orang kaya,” ujar sang ayah.


“Benar kata ayahmu, nak! Lagi pula, tidak mungkin orangtua Intan akan menerima lamaran kita,” sahut ibunya.


“Tidak, Ibu! Aku dan Intan saling mencintai. Dia harus menjadi istriku,” tukas Kumbang Banaung.


“Jangan, anakku! Urungkanlah niatmu itu! Nanti kamu dapat malapetaka. Mulai sekarang kamu tidak boleh menemui Intan lagi!,” perintah ayahnya.


Kumbang Banaung tetap tidak menghiraukan nasehat kedua orangtuanya. Ia tetap bersikeras ingin menikahi Intan bagaimana pun caranya.

Pada suatu malam, suasana terang bulan, diam-diam dia pergi ke Desa Sanggu untuk menemui Intan. Ia berniat mengajaknya kawin lari. (B-3) Bersambung...........
Sumber: Cerita Rakyat Nusantara