SERINGKALI sebuah karya ilmiah lahir dari kondisi keseharian atau pengalaman sang ilmuwan atas suatu peristiwa di lingkungan terdekatnya.

Hal ini pula yang alami Ade Pajar Pirdianto (24 tahun), asal Desa Sungai Bengkuang RT 02/RW 01, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawari-ngin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng).


Suatu ketika, ia melihat susahnya tenaga medis me-nemukan pembuluh darah untuk memasukkan jarum infus kepada seorang pasien, yang tak lain adalah kakeknya, yang dirawat di Rumah Sakit Umjum Daerah (RSUD) Sultan Imanuddin, pada 2012.

Kondisi tersebut menumbuhkan inspirasi untuk menemukan sebuah alat yang mempermudah pencarian pembuluh darah.


Dengan menggunakan teknologi Near-Infra Red (NIR), Ade menemukan alat yang mudah, murah, dan portabel. Bentuknya hanya berupa kotak kecil sehingga mempermudah tenaga medis untuk mencari dan menemukan pembuluh darah sekali pun untuk balita.


Alat tersebut dirancang bersama Fajar Harianto, rekan kuliahnya di Fakultas Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

‘’Alhamdulillah alat yang kami rancang berhasil menjadi pemenang pertama kategori biomedik dalam Lomba Cipta Elekronik Nasional 2013,” ungkap Ade, yang lulus kuliah pada 2014, saat bertemu Borneonews pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2016, di halaman Kantor Bupati Kobar, Pangkalan Bun, Minggu (21/2/2016)

Meraih Best Article


Bahkan pada 2015, anak keluarga transmigran itu bersama tiga rekannya dari Fakultas Kedokteran (FK) UMY, yaitu Yusuf Susanto, Rizal Dwika Saputro, dan Hendrian Ade, berhasil menemukan sebuah alat pendeteksi dini gejala kanker payudara.

Uniknya, alat tersebut berupa webcam yang dilengkapi fitur inframerah.


“Karya kami berhasil meraih Best Article dan masuk dalam presentasi International Conference of Medical Health and Science, September 2015, yang diselengarakan di ruang studi hall Asri Medical Center (AMC) UMY,” tutur anak pertama dari dua bersaudara pasangan Kastari dan Nunuk Mujiati serta perwakilan Sahabat Inspirator Indonesia Chapter Pangkalan Bun itu. (B-1)

Laporan : Wahyu Krida