KETUA Fraksi Golkar DPRD Kapuas, Abdurahman Amur prihatin atas musibah ambruknya Jembatan Muara Mambulau, Kecamatan Bataguh, Minggu (21/2/2016).


“Jembatan itu maskot Kapuas, namun yang nama­nya musibah, kita hanya bisa turut prihatin,” kata Abdurahman Amur, Senin (22/2).


Dia berharap jika jembat­an ini kembali dibangun tetap mengacu pada kontruksi semula, sehingga tidak meninggalkan sejarah dan momen serta arsitektur yang dibangun oleh putra putri terbaik STM Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat pada 70-an.


Dimana dulu jembatan ini merupakan pintu gerbang terindah untuk memasuki wilayah Kapuas. Saat itu Jembatan gantung di Muara Mambulau ini terlihat pali­ng­ megah. Ternyata pola arsitek jembatan ini sama dengan jembatan Pasar Kalawa, Kabupaten Pulang Pisau dan di Kecamatan Kapuas Barat.


Semuanya karya putera Kapuas. Anggota dewan dari daerah pemilihan I me­li­puti Kapuas Kuala, Kapuas Timur, Tamban Catur, dan Bataguh ini mengharapkan lagi agar dinas teknis yang menangani jembatan ini memperoiritaskan pembangunan jembatan yang runtuh pasca ditabrak tongkang bermuatan pasir.


Dia menyarankan untuk sementara dioptimalkan pembangunan alternatif menuju jembatan Km 1 Anjir, sehingga bisa meng­hubungkan masyarakat dari Mambulau ke luar dan masuk apakah mengguna­kan feri penyeberangan atau membuka akses jalan menuju jembatan yang hampir selesai dibangun.


“Silahkan pemerintah daerah mengambil sikap dan segera melakukan aksi atas kepentingan yang bisa dibilang darurat,” sebutnya.
(PP/B-6)