KARYA ilmuwan muda Ade Pajar Pirdianto (24 tahun) berupa alat pendeteksi dini kanker dan pembuluh darah balita, belum bisa diproduksi dan dimanfaatkan untuk keperluan medis.
Alasannya klasik, karena belum mendapatkan hak kekaya-an intelektual atau hak paten yang di negeri ini tidak mudah karena antara lain biayanya mahal.
“Rasanya banyak peneliti yang mengalami nasib sama dengan kami,” ujar pemuda asal Desa Sungai Bengkuang, RT 02/RW 01, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, itu.
Tetapi semangatnya untuk terus berkarya tidak luntur. Sarjana teknik elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu bertekad berbagai ilmu pengetahuan kepada pemuda atau masyarakat Kobar yang memiliki minat dalam bidang teknologi elektronik.
Ini pula yang membuatnya kini aktif di komunitas Inspirator Indonesia, yaitu sebuah gera-kan sukarelawan kepemudaan nasional.
Ade yang merupakan perwakilan Sahabat Inspirator Indonesia Chapter Pangkalan Bun, berkeinginan memelopori pelajar dan pemuda untuk berkreasi positif dalam bidang apapun. Salah satu yang menjadi cita-citanya adalah mengembangkan teknologi robotika di Kobar.
“Saya masih melakukan survei minat generasi muda Kobar mengenai teknologi robot. Jika mendapat respons yang baik dari genersi muda dan peme-rintah kabupaten, saya akan berbagi ilmu kepada pemuda yang memiliki kemauan tinggi,” tutur Ade.
Caranya, menurut dia, adalah mendirikan sebuah ‘’Kampung Robot’’. ‘’Jadi, (di Kampung Robot) peminat teknologi tersebut bisa bersama-sama belajar dan melakukan riset tentang teknologi robot,” jelasnya.
Sambangi sekolah
Karena Kampung Robot itu merupakan tujuan jangka panjang, langkah awalnya adalah mencoba menarik minat para pelajar untuk belajar teknologi robot. Beberapa sekolah sudah dia sambangi, seperti SD Negeri 2 Sidomulyo, SMPN 2 Pangkalan Banteng, dan SMKN 2 Pangkalan Bun.
‘’Antusias mereka sangat besar sekali. Tetapi, selama ini kendala yang mereka hadapi adalah ketiadaan pengajar yang mampu untuk memberikan pengetahuan teknologi robotika,” tutur Ade.
Untuk itulah dia siap menyingsingkan lengan baju dan berbagi ilmu agar sumber daya manusia (SDM) Kobar tidak ketinggalan kereta dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Walau saya anak transmigrasi, tapi saya yakin dan mampu untuk menjadikan kota kelahiran saya ini tidak tertinggal oleh kota lainnya,” tandas Ade.
(B-1)
Lpaoran : wahyu krida


