Di balik tragedi runtuhnya Jembatan Gantung Mambulau, Muara Anjir, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), Minggu (21/2/2016) siang, terjadi aksi heroik seorang pria bernama Wahyu Saputra (26 tahun).

Keberaniannya luar biasa, mengingat fisiknya yang hanya memiliki satu kaki dan jika berjalan harus menggunakan tongkat penyangga badan.


Tapi Wahyu seperti lupa dengan kecacatannya. Sekonyong-konyong, pemuda berpostur pendek dan kurus itu berlari terpincang-pincang, lalu melompat ke Sungai Kapuas yang airnya tengah pasang dan arusnya deras.


Pasalnya, ketika itu ia melihat tiga orang perempuan, salah satunya balita, terjun bebas ke sungai bersamaan rontoknya jembatan karena tertabrak sebuah tongkang.

Mereka adalah adik-kakak Miftah (22 tahun), warga Dahirang, Kapuas Hilir serta Hamidah (23 tahun), warga RT 007 Jalan Keraton, Sari Pulau. Lalu Khairun Nisa (9 bulan), anak Hamidah.


Mereka berboncengan dengan sebuah sepeda motor, sepulang membawa si bocah ke tukang urut bayi, saat melintas di jembatan nahas sepanjang 50 meter itu. Yaitu, dari Mambulau ke Sari Pulau.


Sementara Wahyu sedang berada di warung kopi samping rumahnya, tepat di bantaran Sungai Kapuas, RT 03, Kelurahan Mambulau, Kecamatan Kapuas Hilir.

‘’Tiba-tiba saya mendengar bunyi dentuman keras. Ternyata, sebuah tongkang yang ditarik tugbot tersangkut bagian belakangnya pada jembatan gantung Mambulau hingga ambruk,” kata Wahyu kepada Borneonews, di rumahnya, Senin (22/2/2016).

Disambut haru


Melihat runtuhnya jembatan kayu ulin berumur 40 tahun yang menjadi maskot Kota Kuala Kapuas itu, mata Wahyu segera tertuju pada tiga orang tadi yang jatuh dari atas jembatan.

‘’Langsung saja saya menceburkan diri ke sungai untuk menolong mereka,” ungkap pria peng-angguran yang kaki kirinya diamputasi karena tulangnya remuk dalam sebuah kecelakaan lalu-lintas pada 2014.


Beruntung Miftah dan Hamidah pandai berenang. Tapi, Hamidah tampak lemas dan hampir pingsan karena sekuat tenaga mencoba memburu anaknya yang timbul-tengelam di tengah arus Sungai Kapuas.


Datanglah Wahyu membantu dengan nekat melompat ke su­ngai, yang beberapa saat kemudian diikuti tiga warga lainnya. Semua korban pun terselamatkan. Wahyu dengan susah payah berenang sambil menggendong  Hamidah, sementara bocah Anisa dibawa tantenya, Miftah, ke tepi sungai.


Ratusan warga pun menyambut haru aksi heroik Wahyu, tak terkecuali sang ibu, Marsinah. “Saya sempat kaget melihat aksi anak saya itu. Padahal, untuk berjalan saja harus menggunakan tongkat. Bapaknya sampai menangis menyaksikan dia menceburkan diri ke sungai,” kata-nya.
 (B-1)