Puncak perayaan tahun baru Imlek (2567), ratusan warga Tionghoa di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menggelar ritual Ci Suak (Siraman) atau ritual tolak bala di Vihara Graha Sailendra, di Jalan Ahmad Yani km.9, Pangkalan Bun. Senin (22/2/2016) malam.


Dalam ritual itu, ratusan umat Budha yang didominasi etnis Tionghoa berbondong-bondong mendatangi Vihara sejak sore. Mereka kemudian menggelar doa bersama yang dipimpin oleh Bikku (Biksu) Dammanyano Maha Thera.


Usai sembahyang, umat kemudian membakar replika kapal dan replika orang-orangan yang terbuat dari kertas. Di dalam replika kapal serta orang-orangan itu, tertulis nama-nama umat yang ikut dalam acara Ci Suak itu.


"Ini adalah kegiatan ritual rutin dalam rangka tolak bala. Dilakukan di puncak perayaan Imlek (Cap Go Meh)," kata Ketua Pengurus Vihara, Chikong.



Chikong menjelaskan, ritual dimulai dengan berdoa bersama di vihara. Kemudian membakar replika kapal dan replika orang-orangan yang telah dibuat sebelumnya.


"Pembakaran replika kapal dan orang-orangan itu sebagai simbol untuk tolak bala. Di tahun ini (monyet api), ada beberapa masyarakat yang bershio monyet, macan, ular dan babi yang memiliki banyak pantangan. Istilahnya shio ciong atau shio sial," ujarnya.


Harapannya, dengan upacara ritual ini warga yang memiliki shio tersebut mendapat berkah dan dapat melewati Tahun Monyet Api dengan selamat dan penuh keberkahan.


Salah satu peserta ritual Ci Suak, Jong Shong Seng, alias Asong, 54, warga Kecamatan Kumai mengatakan. "Kebetulan shio saya termasuk salah satu shio yang tidak cocok di tahun ini. Jadi ikut ritual agar terhindar dari segala bencana dan diberikan kemurahan rejeki," ujar pria bershio ular ini.


Usai ritual Ci Suak, sejumlah warga Tionghoa di Kabupaten Kobar menyalakan kembang api dan menerbangkan lampion sebagai simbol rasa syukur atas semua berkah dan harapan baru di tahun mendatang.(CR-1/m)