KELUARGA besar Juriat Pangeran Ratu keluar dari Istana Mangkubumi yang terletak Jalan Pakunegara, menjelang Maghrib.
Mereka membawa perlengkapan upacara adat Be Tabe, berupa nasi ketan, ayam pulut, wadai (kue) lima warna, serta bunga yang diletakkan dalam potongan bambu.
Mereka bergerak menuju Sungai Arut. Be Tabe merupakan prosesi untuk meminta izin kepada leluhur sebelum pekan budaya. Ada tiga lokasi yang menjadi tempat prosesi adat yang digelar Senin (22/2/2016) itu.
Pertama adalah pinggiran Sungai Arut. Di lokasi itu, mereka melarung sesaji dan mengambil air untuk upacara adat di spot yang dulunya diketahui sebagai Jamban Dalam. Spot yang berada di pinggiran Sungai Arut ini, berada tepat di muara Gang Rangas, Jalan Pangeran Antasari Kelurahan Raja.
Tepat azan Magrib berkumandang, para Gusti Sahak bersama pata tetua adat tiba di pinggir sungai. Ditingkahi aroma asap dupa, mereka melarung bambu yang diisi bunga dan mengambil air sungai.
Air tersebut ditaruh dalam botol dan stoples kaca. Kemudian, dibawa untuk disimpan di Istana Mangkubumi, sebelum digunakan sebagai salah satu syarat upacara adat Besunat.
Seusai melarungkan bambu berisi bunga di Sungai Arut, para tetua adat meletakan sesajian di bawah pohon beringin besar yang dikenal dengan nama Pohon Lingis. Pohon tersebut berada tepat di belakang Aula Antakusuma Jalan Pangeran Antasari.
Dalam keremangan malam, diterangi beberapa lampu yang berasal dari handphone dan masih tetap ditingkahi aroma bernuasa mistis yang berasal dari asap dupa, Gusti Sahak meletakkan perapian dan sesajian di bawah pohon tersebut.
“Minta izin kepada para leluhur, kami akan menggelar pekan budaya selama seminggu. Mohon restui kami,” ujarnya dalam Bahasa Teringin.
Target terakhir dalam prosesi Be Tabe ini adalah Tiang Sangga Buana. Walaupun tiang bendera itu sudah tidak ada lagi lantaran patah menjadi empat bagian pada tahun lalu, prosesi meletakan sesajian tetap dilakukan di bekas patahan tiang tersebut.
(Wahyu Kridha/B-2)


