Terjun bebas dari atas Jembatan Gantung Pulau Mambulau, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, yang roboh disenggol ekor sebuah tongkang,

Minggu (21/2/2016) siang, menimbulkan trauma berat bagi Hamidah (23 tahun). Apalagi, saat itu ia tengah berboncengan dengan sepeda motor bersama sang adik, Miftah (22), dan membawa serta anak balitanya, Khairun Nisa (9 bulan).


Sepulang dari tukang urut bayi di daerah Mambulau, mereka menyeberangi jembatan kayu yang menjadi maskot Kota Kuala Kapuas itu, menuju rumah Hamidah di Jalan Keraton RT 07 Kecamatan Bataguh.

Suasana jembatan kebetulan sepi, hanya mereka bertiga melintas de-ngan sepeda motor Yamaha Jupiter Z yang masih gres dan dikemudikan Miftah.


Ketika berada di tengah jembatan yang panjangnya sekitar 50 meter tersebut, di bawah terlihat sebuah tongkang yang hendak mengangkut pasir ditarik tugboat dari arah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Tapi, kayu yang menjulang di bagian ekor tongkang kemudian menabrak jembatan kayu ulin yang berusia sekitar 40 tahun itu.


“Kami merasakan goyangan kuat ke kiri dan ke kanan, sehinga  panik dan berusaha untuk melarikan diri kembali ke arah Mambulau.

Tapi nahas, jembatan itu keburu ambruk dan kami tercebur ke Sungai Kapuas yang tengah pasang dan arusnya deras,” tutur Hamidah saat ditemui di rumahnya, Selasa (23/3/3016).


Mereka menjerit, tapi kemudian hatinya pasrah, dan Hamidah terus berusaha mendekap kuat anaknya agar tidak terlepas. “Ia (sang anak) pun memeluk leher saya dengan erat,” ungkapnya.

Selamat dari bahaya


Ketika sampai di sungai, tubuh mereka berbenturan dengan kayu-kayu  konstruksi jembatan yang roboh. ‘’Dahi saya sampai terluka,” kata Hamidah, yang bekerja pada perusahaan pengolahan kayu di Banjarmasin.


Beruntung kayu-kayu jembatan yang rontok itu tidak langung tenggelam sehingga bisa menjadi pegang­an mereka. Namun, sang balita terlepas dari dekapan Hamidah. Beruntung bisa segera diselamatkan warga dan dibawa menepi bersama tantenya, Miftah.


Tinggal Hamidah sendirian di tengah sungai dengan tubuh lemas karena harus melawan derasnya arus. Saat itulah seorang pria cacat fisik bernama Wahyu Saputra (23) melakukan aksi heroik.

Warga dekat jembatan yang hanya memiliki satu kaki kanan, datang menolongnya dengan menceburkan diri ke sungai (Borneonews, 23/2/2016).


“Dengan sekuat tenaga saya mencoba untuk bergantung pada pundaknya. Saya sempat bilang mau pingsan. Tetapi dia mengatakan, ‘’pingsannya  nanti di darat saja, jangan di sini,” tutur Hamidah.


Mereka kemudian dibawa ke rumah sakit, tetapi hanya berobat jalan karena luka-lukanya tidak parah. Begitu juga dengan si balita, meski sempat timbul-tenggelam di sungai, tetapi dokter anak tidak menemukan ganguan berarti pada tubuhnya.


“Hamidah sudah tiga hari istirahat di rumah dan tidak bekerja dulu. Dari pihak perusahaan pemilik tongkang belum ada bantuan apa pun,” kata Nadia (60), ibunda Hamidah dan Miftah.
(B-1)

Laporan : Djimmy napoleon