PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) di Kotawaringin Barat (Kobar) 2021, angka prevalensi stunting sebesar 23,4 persen. Angka tersebut mengalami penurunan pada 2022 menjadi 21,1 persen.

"Artinya ada penurunan stunting sebesar 2,3 persen di Kotawaringin Barat pada tahun lalu," ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dari Dinas Kesehatan Kobar I Ketut Djabal W, Senin, 30 Januari 2023.

Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan dari balita. Mulai riwayat saat kehamilan hingga 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) mengalami kekurangan gizi secara kronis. 

"Sering mengalami infeksi yang berulang pada saat dilahirkan seperti demam dan flu. Kemudian ada juga beberapa hal yang terkait dengan bayi prematur dan ditunjang lagi dengan kekurangan zat gizi serta masalah infeksi yang berulang-ulang" jelasnya. 

Selain pertumbuhan tinggi dan panjang badannya, ada yang terpenting akibat dari stunting tersebut yaitu perkembangan otaknya tidak sesuai dengan usianya sehingga berdampak pada kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Stunting bisa terjadi karena faktor penyebab tak langsung. 

--page

"Mungkin masalah lingkungannya, sanitasi lingkungannya, masalah ketersediaan atau ketahanan pangan dan gizi. Kemudian, masalah jamban, ekonomi, sosial, budaya, terkait madalah BPJS. 

Pencegahan dan penanganan stunting oleh petugas kesehatan di Kobar sudah dilakukan pada remaja, wanita usia subur hingga ibu hamil atau setelah melahirkan. 

Dari tingkat kabupaten sampai desa, Dinas Kesehatan dengan sektor terkait seperti pemerintah desa, petugas kesehatan, Dinas P3AP2KB (Tim Pendamping Keluarga yaitu kader, bidan desa, PKK) kepala desa, tokoh masyarakat, dan lainnya turut mendukung untuk menekan kenaikan kasus stunting di Kotawaringin Barat. 

Data Pengukuran Posyandu pada tahun 2022, jumlah balita stunting ada 788 dari 16.482 jumlah balita yang diukur sebesar 4,78 persen. 

Data tersebut menunjukkan bahwa adanya penurunan dibandingkan tahun 2021 lalu yang jumlah balita stunting ada 1394 dari 14.399 jumlah balita yang diukur sebesar 9,68 persen. 

--page

Untuk memantau pencegahan stunting terutama di Kabupaten Kobar, setiap anak akan dilakukan deteksi pengukuran Antropometri meliputi tinggi badan, panjang badan, berat badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas (LILA). 

Disamping program penanganan stunting tersebut, ia mengharapkan lintas sektor yang ada di Kabupaten Kotawaringin untuk mendukung, menggerakkan masyarakat untuk melakukan screening pergi ke posyandu. 

Selain itu, dengan adanya dukungan lintas sektor terkait masyarakat juga sadar akan pentingnya kesehatan dan kebersihan untuk menuju Kotawaringin Barat yang sehat dan mari cegah stunting bersama. (NURITA/H)