KONDISI jembatan gan­tung Desa Man­do­mai, Kecamatan Kapuas Barat sang­at­ memprihatinkan, sehingga­ warga meminta segera dilaku­kan perbaikan oleh Pemkab Kapuas.


Sebab jembatan ini sering dilalui kendaraan roda empat­ dengan beban melebihi kapa­si­tas.


“Jembatan ini sering dilalui­ kendaraan pengangkut bara­ng, sehingga mengkhawatirkan dan akan bernasib sama dengan jembatan di Kapuas yang ambruk Minggu lalu,” ka­ta Susanto warga sekitar jem­batan saat dibincang Borneonews, Selasa(23/2/2016).


Dia menuturkan jembatan gantung ini juga merupakan­ karya putra Mandomai yang harus dijaga bersama. Jangan se­perti Jembatan Gantung Mam­bulau yang ambruk di­tabrak tongkang.


Untuk mengantisipasi agar tidak ambruk, maka warga pu­­nya ide bagaimana di mu­­ka jembatan dilakukan pe­mortalan, sehingga kendara­an angkutan tidak leluasa melintas di atas jembatan.


“Untuk mencegah supaya­ jembatan tidak ambruk maka harus diportal,” ungkap­nya.


Jika dibiarkan Santoso khawatir lambat laun jembatan ini akan ambruk, sehingga ber­dampak pada perekono­mi­an masyarakat serta aktivi­tas perkantoran maupun se­kolah.


Saat ini di lokasi jembatan sudah dipasang larangan ba­gi mobil untuk tidak lewat, ta­pi tidak digubris.


Mereka tetap lewat dengan membawa muatan. Dia me­min­ta agar pengertian dari semua pihak agar mematuhi rambu yang sudah dipasang itu.


“Kalau bongkar muat si­lah­kan, tapi jangan sampai me­nggunakan roda empat un­tuk melintas di atas jembat­an,” sebutnya.


Terpisah, Kepala Desa Pan­tai­, Jaya menjelaskan Jembat­an Gantung Mandomai ini merupakan salah satu akses yang menghubungkan ke de­sanya.
Jika ambruk pasti akan ber­dampak pada aktivitas ma­syarakat.

Sementara itu Kepala Dinas Pertambangan­ dan Energi Kapuas, Supar­man mengaku kesulitan me­ngetahui aktivitas pe­nam­bangan pasir yang me­libatkan Tongkang Mitra Jasa dan tugboat Berkat Setia Budi yang menabrak Jem­batan Mambulau.


Sebab saat peristiwa itu kon­disi tongkang dalam ke­adaan kosong. Dia menye­but perusahaan tambang­ galian C di Kapuas yang mengantongi izin eksplorasi 14 unit, sedangkan yang sudah produksi hanya 13 unit.


Lokasi tambang galian C ada di Palingkau, Mantangai, dan Tamban Catur.  
(B-6)