IBARAT pepatah hidup segan mati tidak mau, mungkin kata ini cocok untuk menggambarkan nasib petani karet di Katingan.
Meski ada pengepul yang menerima getah karet, namun harganya lebih murah dibanding sebelumnya.
“Mau kita istirahat sementara menyadap karet, kita tidak punya ongkos untuk kebutuhan dapur setiap hari, sedangkan kalau kita kerja hasilnya tidak kelihatan, sebab sekarang harga karet murah,” keluh Rusli, petani karet Desa Bukit Batu, Kecamatan Katingan Hilir, Rabu (24/2/2016).
Kini harga karet dari petani hanya dihargai Rp4 ribu per kilo. Awal Februari 2016 harganya masih Rp5 ribu atau Rp500 ribu per kwintal.
“Hanya kali ini harga karet termurah,” sebutnya.
Rusli mengaku jika dirata-rata setiap kali menyadap hanya bisa mengumpulkan 10 Kg getah.
Itu pun tidak setiap hari bekerja. Sebab menyadap karet harus tidak ada turun hujan.
“Kalau pagi-pagi sudah hujan lebat kita tidak bisa menderes, sebab kalau dipaksakan getahnya akan banyak hilang,” sebutnya lagi.
Sebenarnya Rusli hendak mencari pekerjaan lain, namun peluang kerjaan sulit didapat.
Dia mengaku sempat menjadi kuli bangunan, namun karena usianya sudah tua sehingga dia tidak sanggup bekerja berat. Jadi usaha satu-satunya adalah menyadap karet, tapi harganya terus anjlok.
“Padahal kalau harga karet bisa mencapai Rp7 ribu per kilo, ya lumayan ada hasilnya, tapi sekarang harganya terus turun,” tandasnya. (GP/B-6)


