BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Padi, warga Desa Pangkalan Durin, Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menjadi satu - satunya pengrajin batik di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Ditengah gempuran batik produksi pabrikan dan hantaman pandemi Covid-19, tidak menyurutkan semangat Padi untuk terus berusaha mempertahankan usaha batik yang diberi nama Batik Aruta.
Kerajinan batik yang tersebut sudah dirintisnysa sejak tahun 2018 lalu, dan terus bertahaan hingga saat ini di tahun 2023.
"Usaha batik ini sudah berjalan 5 tahun lalu, dan Alhmdulillah bisa bertahan sampai sekarang," kata Padi saat dibincangi di rumahnya.
Usaha tersebut bermula saat dirinya liburan ke Pulau Jawa, lalu melihat temannya yang memiliki usaha membatik, dan berfikir bahwa itu menjadi peluang usaha jika dibuka di Kalimantan Tengah, Kobar khsusunya.
--page
"Jadi belajarnya ini singkat, jadi setiap saya libur kerja atau cuti tahunan, saya sempatkan belajar membatik. Sehingga saya belajar ini hanya beberapa kali saja, saat saya liburan ke jawa," jelasnya.
Kemudian, di tahun 2018 itu ia membeli kompor dan peralatan untuk membatik lukis secara online seharga Rp 350 ribu.
"Alat - alat dan juga pewarna semua didatangkan dari jawa," sebutnya.
Ia mengungkapkan, awal merintis usaha batik ini tidak mudah, karena harus mengedukasi pembeli. Apalagi Para pembeli ini membandingkan harga batik lukis dengan batik printing.
"Awal merintis saya harus mengedukasi pembeli dulu, karena batik lukis ini dibilang mahal, karena dibandingkan dengan batik printing yang harganya jauh lebih murah. Sampai pada akhirnya dibantu Dinas Pariwisata dalam prmosinya," ungkapnya.
--page
Saat awal merintis ia pernah mendapat 20 pesanan 20 lembar, sampai pada akhirnya paling banyak itu 120 lembar.
Untuk harganya bervariasi, mulai dari motif sederhana dengan kain jenis prima dibandrol dengan harga Rp 260 ribu, kalau motif padat bisa mencapai Rp 300 ribu.
"Kain dan motif ini mepengaruhi harga jual," kata Padi.
Untuk permintaan kain batik ini kebanyakan dari kantor - kantor dinas dan perkantoran. Serta pesanan untuk cinderamata bagi tamu atau pejabat yang datang ke Kobar.
Sistem pemesanan minimal pembayaran 50 persen terlebih dahulu.
--page
"Pemesan baling banyak dari dalam daerah Kotawaringin Barat, beberapa kali juga pernah kirim ke kabupaten lain di Kalimantan Tengah," ungkapnya.
Kemudian, selain menerima orderan batik, Padi juga kerap diundang untuk memberikan edukasi, atau istilahnya wisata edukasi kepada ibu - ibu PKK di Kobar dan juga pelajar.
"Beberapa ibu pejabat pernah datang dan saya berikan edukasi batik lukis ini, seperti Bu Pj Bupati beserta jajaran, Ibu Bhayangkari, ibu PKK Kecamatan dan Kelurahan, serta pelajar," sebutnya.
Tentu, dalam usaha ada hal pahit yang dirasakan, yaitu saat Pandemi Covid-19 melanda. Setidaknya ada 4 orderan dengan nominal omset sekitar 70 - 80 juta itu batal akibat Pandemi.
"Saat pandemi kacau sekali, padahal beberapa bahan sudah kami siapkan tapi pesanan batal. Dan sekarang ini saatnya bangkit, namun masih bertahap," pungkasnya. (Danang Ristiantoro/H)









