Kerinduan untuk mencicipi kue atau wadai tradisional khas Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, sedikit terobati. Pada hari ketiga Pekan Budaya Adat Raja 2016, Rabu (24/2/2016) pagi, digelar pesta kue-kue antik ‘’Mehampar Wadai’’.


Berbagai macam kue langka dengan resep warisan nenek moyang, terhampar dalam ragam bentuk, warna, dan rasa. Semuanya digelar di atas meja panjang, yang dinaungi tenda kerucut milik Pemkab Kobar, dekat turunan Jalan PRA Kusumayudha, Kelurahan Raja, atau sekitar 200 meter dari Istana Kuning, Pangkalan Bun.


Salah satu kue langka itu bernama wadai rangay. Dibuat dari campuran tepung ketan, tepung beras, daging kelapa sangrai, dan gula. Adonannya dibakar dengan menggunakan tuangan kue bingka mini. Walhasil, kue tersebut berbentuk lingkaran, beraroma kelapa, dan rasanya manis.


Maimunah (52 tahun), warga Jalan Kawitan 2 RT 05 Kelurahan Madurejo, mengaku sengaja membuat kue tersebut untuk menghilangkan rasa kangen pada masa kecilnya. “Saat hampir tidak pernah lagi dijual oleh pedagang wadai, padahal kalau barangnya ada banyak dicari orang,” katanya.


Ia juga menyajikan wadai roti burung. Bahan adonannya seperti roti biasa, namun uniknya tanpa campuran pengembang dan dicetak menyerupai bentuk burung.

Mangkuk buah labu


Sementara Utin Nur Aini (40) tampil bangga dengan hidangan  yang tak kalah fenomenal. Ia menyajikan wadai serikaya yang dilumuri santan, berasa manis, dan tampak unik karena disajikan dalam mangkuk buah labu.


“Konon, zaman dulu kue ini hanya disantap oleh raja dan kaum bangsawan,” kata Nur Aini.


Membuat wadai tersebut, menurut dia, cukup ribet. Bahannya terdiri dari campuran telor ayam, santan, gula, dan daging labu. Lalu, dimasukkan dalam mangkok dari buah labu yang isinya telah dikerok. ‘’Labu berisi adonan itu dikukus dalam dandang selama satu jam,” katanya.


Lantaran lama tidak menemukan kue dan makanan yang disajikan, walhasil hamparan kue tersebut menjadi rebutan hadirin dalam suasana penuh gelak tawa. Dalam sekejap, hamparan wadai yang kaya warna dan rasa unik itu pun ludes. Tentu saja cepat habis, karena selain enak-enak, juga gratis.


Kegiatan tersebut juga menjadi ajang hunting komunitas para Mat Kodak dari Citra Kecubung Photography Community (CKPC) Pangkalan Bun. Sebelum kue-kue yang disajikan diperebutkan warga, lensa-lensa kamera mereka sudah puas “menyantapnya”.


“Kapan lagi kue tersebut bisa ditemui untuk didokumentasikan,” ujar Muslih, salah satu pentolan CKPC.
(B-1)