EKS anggota organisa­si Gerakan Fa­jar Nu­­san­tara (Gafatar) yang bermukim di Dusun Pudu Kuali, Desa Kar­ta Mulya, Kecamatan Sukama­ra, Kabupaten Sukamara, me­rasa aktivitas mereka se­lalu diawasi sejak enam bu­lan lalu.


Bambang, salah seorang eks anggota Gafatar di Dusun Pudu Kuali, menuturkan bah­wa sejak muncul pemberitaan me­ngenai keberadaan Ga­fatar di Kalimantan Te­ngah semua menjadi berubah.


Se­tiap aktivitas yang mere­ka la­lukan selalu diawasi oleh pi­hak-pihak tertentu.


“Semua aktivitas kita seper­ti­nya selalu diawasi. Dari akti­vitas kita di rumah hingga di luar rumah. Ini terjadi se­­jak adanya pemberitaan me­ngenai eks Gafatar di Ka­li­mantan,” ka­ta dia, Rabu (24/2/2016).


Bahkan, sambungnya, keti­ka hendak melaksanakan sa­lat Jumat di salah satu mas­­jid di Kota Sukamara, dirinya ma­sih merasa diawasi. Meski be­gitu, ia mengaku merasa ti­dak keberatan dengan penga­was­an tersebut.


“Di sini mereka sering mon­dar-mandir bahkan saya sa­­lat pun masih diikuti” ucap­nya.


Hanya, ia tidak menyebutkan siapa pihak yang meng­awa­si tersebut.


Penuturan Bambang diami­ni rekannya, Isma Dwi Kurniawan, juga eks anggota Ga­fatar yang menetap di Dusun Pu­du Kuali.


Menurut Isma, sejak gem­par­nya pemberitaan menge­nai Gafatar secara nasio­nal, masyarakat yang semula ti­dak mengetahui status mere­ka kini menjadi tahu.


“Kita mah tidak masalah ka­rena kita sadar kita salah,” aku­nya.


Ia juga menyebut tidak mem­­permasalahkan adanya pe­­­ngawasan terhadap tindak-tanduk mereka, selama ma­sih dapat beraktivitas de­ngan normal. Aktivitas utama yang mereka lakukan di antaranya berkebun dan ber­dagang minuman.

Diketahui keluarga


Isma melanjutkan, sebelum ada­nya pemberitaan menge­nai orang hilang akibat di­rek­­­rut organisasi Gafatar, pi­­haknya merasa nyaman-nya­­man saja tinggal di Dusun Pu­du Kuali. Namun setelah itu semua menjadi berbeda. Ke­giatan merekapun selalu di­awasi.


Padahal, kata dia, kelompok­nya pindahnya ke Kalimantan Tengah, khususnya Kabupa­ten Sukamara, atas dasar ke­inginan pribadi dan diketa­hui oleh keluarga.


“Orang hilang itu tidak di­se­­babkan oleh Gafatar. Kita pin­­dah di sinipun semua ke­luar­ga tahu dan hingga se­ka­rang ki­ta masih berhubung­an dengan keluarga di Pulau Ja­wa me­lalui telepon dan SMS (short message service atau pesan singkat telepon se­luler),” tegasnya.
(MG13/B-3)