LOKASI prostitusi di Desa Sungai Pakit, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) merupakan satu dari tujuh tempat lokalisasi yang akan diutup total tahun ini.

Penutupan akan dilakukan Pemkab Kobar dan seluruh pihak seperti TNI, Polri, serta unsur masyarakat ini ternyata membuat galau para Mami (Sebutan mucikari) dan para PSK.


Sebut saja ‘Melati’, wanita bertubuh semampai dengan rambut hitam lurus menjuntai itu mengaku bingung jika tempat praktik haram itu ditutup. Ia mengaku akan kesulitan dalam mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan hidup dan biaya keluarga.

“Silahkan ditutup tapi saya minta pekerjaan yang jelas,” pinta wanita yang mengaku berasal dari Kabupaten Kobar itu pada Rabu (24/2/2016) malam.


Teman seprofesi melati pun, sebut saja ‘Mawar’ meminta pemerintah tidak pilih kasih dalam menutup lokalisasi. Jangan hanya PSK yang menjadi bulan-bulanan pemangku kepentingan.

Sebab, bisnis yang ada didalamnya tidak hanya pelayanan seks komersial saja, namun ada bisnis lain yang lebih besar dan melibatkan beberapa oknum didalamnya. “Banyak juga yang bisnis tidak bener di sini toh mas,” sebut wanita yang berasal dari Jawa Timur.


Pantauan Borneonews di lokalisasi tersebut, banyak penjagaan ketat para preman setempat di portal pintu masuk lokalisasi tersebut. Sekitar belasan rumah yang dijadikan tempat karaoke masing-masing terdapat kamar berukuran 4 x 3 meter yang dijadikan tempat pelayanan seks bagi para pria hidung belang.


Kepala Desa Sungai Pakit, Jamhari meminta pemerintah membuat formulasi yang tepat dalam menutup tempat lokalisasi yang ada. Jangan sampai, ketika sudah ditutup, para PSK dan bisnis haram lainnya malah merambat ke lingkungan warga.

“Kami mendukung, tapu harus mantap segala sesuatunya, jangan sampai sudah ditutup, mereka (PSK, Red) malah mangkal di wrung-warung pinggir jalan.”
(CP/B-7)