GERHANA matahari total (GMT) memang hanya akan melewati 12 provinsi di Indonesia. Namun, fenomena alam langka yang akan terjadi pada 9 Maret itu dipastikan juga dapat dinikmati di hampir seluruh wilayah lain di Indonesia. 


Namun, di luar 12 provinsi itu, GMT tidak dapat dinikmati dengan pemandangan mencapai 100 persen. “

Memang tidak semua bisa melihat utuh sampai puncak kemunculan korona. Tetapi sebenarnya gerhana tetap terjadi di seluruh wilayah Indonesia,” ungkap Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin di Jakarta, Kamis (25/2/2016).


Menurut Djamaluddin, beberapa wilayah Indonesia akan mengalami gerhana dengan kadar kepenuhan yang berbeda. Jakarta dan sekitar Pulau Jawa akan mengalami gerhana hingga mencapai 88%. 


“Jadi nanti perbedaan terjadi di korona atau yang diketahui sebagai cincin api saat gerhana dalam keadaan sempurna. Itu hanya bisa dilihat di 12 provinsi,” ungkapnya.


Ia melanjutkan, sekalipun proses gerhana hanya dapat dinikmati secara langsung di 12 provinsi, masyarakat di berbagai wilayah lain dapat turut melihatnya dengan menggunakan bantuan alat yang terdapat di stasiun atau pusat-pusat penelitian antariksa.


GMT yang terjadi pada 9 Maret mendatang akan melewati 12 provinsi, yakni Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Selain itu, beberapa kota juga akan dapat melihat, yakni Palembang, Tanjung Pandang, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Ternate, dan Sofifi.


GMT tahun ini akan terjadi di wilayah sepanjang lautan Hindia hingga Pasific. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang wilayah daratannya disinggahi peristiwa tersebut pada tahun ini. Gerhana nantinya akan terlihat rata-rata selama satu sampai 3 menit di setiap wilayah.


Menurut ahli astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Permana Permadi fenomena ini dapat dijadikan momentum sumber penelitian antariksa dari seluruh stasiun LAPAN dan lembaga penelitian yang ada di seluruh Indonesia.


Penelitian dapat difokuskan pada dampak dan pengaruh GMT pada berbagai unsur yang ada di antariksa. (MI/B-10)