KONVERSI minyak tanah ke elpiji di Kotawaringin Barat (Kobar) membuat warga bingung. Pasalnya, warga kesulitan mendapatkan minyak tanah di agen.


Sementara, isi ulang elpiji 3 kg pun jumlahnya terbatas. “Kami kesulitan, tiap hari datang ke tempat agen. Minyak tanah kosong, elpiji juga sama, terus kami harus pakai kayu bakar lagi seperti dulu?” keluh Jaja, warga Desa Amin Jaya, Kecamatan Pangkalan Banteng, Jumat (26/2/2016).



Selain Jaja, warga lainnya, Novi yang mengaku terpaksa membeli isi ulang elpiji di warung dengan harga Rp40 ribu per tabung 3 kg.


“Meskipun mahal tetap harus dibeli soalnya kebutuhan,” kata dia


Miskijan, pemilik agen minyak tanah di Desa Amin Jaya berharap Pertamina menyuplai tabung isi ulang elpiji sesuai kebutuhan di desanya.


Sebab, selama satu bulan terakhir, dia hanya disuplai tabung elpiji sebanyak dua kali. Suplai pertama, ia mendapatkan 50 tabung subsidi 3 kg. Kemudian, yang kedua mendapat 60 tabung saja. 


Padahal jika dilihat dari data, ada 920 KK yang mendapatkan elpiji gratis. “Tabung elpiji 3 kilogram kami jual sudah sesuai instruksi pertamina, Rp23 ribu per tabung, tapi stoknya sedikit terus,” ujar dia.


Maskijan juga mengaku, minyak tanah subsidi yang biasa ia terima sebanyak 12.000 liter dalam satu bulan atau 3 tangki minyak tanah, kini sudah tidak ada. 


Masa transisi


Sementara itu, Sales Executive Regional (SER) Retail LPG wilayah IV Kalimantan Tengah, Toni Pradana, menyatakan, saat ini masih masa transisi sehingga suplai elpiji 3 kg masih terbatas. Namun, jika konversi ini sudah berjalan dengan baik, kebutuhan warga akan terpenuhi.


“Masyarakat yang membutuhkan minyak tanah tetap bisa membeli dengan harga Rp10 ribu per liter,” kata dia.


Head Office PT Pertamina Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pangkalan Bun, Sumardi menjelaskan, distribusi minyak tanah sampai saat ini masih dilakukan, namun kuotanya dikurangi.


“Ada beberapa wilayah yang sudah kami stop pendistribusiannya,” ujarnya. 

(CP/B-2)