Nama Rio Haryanto mendadak berkibar di jagad Indonesia, setelah ia menerima pinangan Manor Racing untuk membalap di lintasan Formula One, beberapa waktu yang lalu. Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 22 Januari 1993 itu pun banjir ucapan selamat dan mendadak populer.


Meski menyandang predikat sebagai driver F1 di level tertinggi balapan jet darat, Rio terancam memulai balapan dari posisi paling belakang.


Pasalnya, terdapat ketentuan knock out yang mengatur jumlah peserta balapan di setiap tahapan kualifikasi (Q1, Q2, Q3).  Peraturan anyar itu menyebut pembalap dengan catatan waktu paling lambat dalam kualifikasi, dicoret dari daftar pembalap yang mengikuti kualifikasi tahap berikutnya. Artinya, pembalap tersebut otomatis start di posisi paling belakang. Begitu seterusnya hingga menyisakan dua pembalap yang saling berebut pole position.


Mengapa peraturan ini mengkhawatirkan? Tentu karena catatan waktu Rio menggunakan mobil MRT05-nya cukup mengecewakan.


Dalam sesi terakhir pramusim F1 di Sirkuit Catalunya, Barcelona, Spanyol, ia mencatat waktu terbaik 1 menit 28 detik. Bahkan, ia dua kali terpental ke luar lintasan hingga gagal menyelesaikan uji coba!


Ia terpaut tiga detik dari rekan setimnya, Pascal Wehrlein yang mengukir catatan waktu 1 menit 25 detik. Lebih mengerikan lagi, Rio terpaut 6 detik dari pembalap Tim Ferrari asal Jerman Sebastian Vettel (1:22)! Dengan sistem ini, sejauh mana Rio Haryanto bisa bersaing dan mampu mengibarkan bendera merah putih di podium?


“Saya membuat kesalahan hari ini dan sayangnya mobil tidak bisa diperbaiki dengan cepat. Jadi saya kecewa karena tidak mampu menyelesaikan program yang kami rencanakan,” keluh Rio di laman Facebook Manor Racing, Jumat (26/2/2016). (B-12)