Sebanyak 18 anak usia SD mengikuti khitanan dengan adat raja-raja Kotawaringin. Kegiatan ini berlangsung di Istana Mangkubumi, Jalan Paku Negara, Pangkalan Bun, Minggu (28/2/2016).


Prosesi khitanan sudah dimulai sejak Sabtu (27/2/2016) malam. Diiringi kesenian gurdah, yang melantunkan syair-syair pujian kepada Yang Mahakuasa dan salawat nabi, para pengantin sunat menjalani prosesi bepacar dan bekasai.


Bepacar adalah penyematan pacar pada kuku para pengantin sunat, sedangkan bekasai adalah luluran dengan krim-krim ramuan tradisonal. Ritual ini harus dijalani pengantin sunat, sebagai bagaian bebersih atau penyucian diri.


Proses ini berlanjut dengan badudus atau mandi berendam. Pelaksanaan badudus di Kolam Tujuh Putri Kompleks Istana Mangkubumi. Setelah berendam sekitar setengah jam di kolam, para pengantin sunat menjalani ritus mandi air kembang. Para orang tua mereka terlibat memandikan anaknya.


Setelah itu, para pengantin sunat menjalani proses berarak (pawai). Diiringi para penari Dayak, pengantin sunat yang mengenakan busana adat Kotawaringin, diarak dengan menaiki Vespa.


"Kalau ini improvisasi (menggunakan Vespa), yang tidak menyalahi prosesi adatnya. Terima kasih buat komunitas Vespa yang telah berpartisipasi," ungkap Mas Mardani, Wakil Ketua Juriat Kotawaringin, penyelenggara kegiatan ini.


"Terima kasih juga untuk komunitas adat Dayak Tomun," imbuhnya.


Hingga berita ini diunggah, prosesi khitanan belum selesai. Para pengantin sunat masih harus mengikuti proses betotay, duduk di atas kain yang telah disedikan, sambil menunggu prosesi puncak dikhitan, pukul 13.00 WIB. (BUDI BASKORO/m)