Alinan rebana Maulid Habsyi mengiringi 18 pengantin sunat adat Kotawaringin menjalani ritual Betotay (duduk bergandengan) dan Tampung Tawar di bangsal Istana Mangkubumi, Pangkalan Bun, Minggu (28/2/2016) siang.


Proses diawali para pengantin sunat dengan mengelilingi balai (kotak) kecil. Tiap sudutnya terdiri dari 4 macam tumbuhan, yaitu pisang, tebu, pinang, dan kelapa itu.


"Itu maknanya untuk memperkenalkan para pengantin sunat, tentang kekayaan hasil bumi, yang perlu kerja keras untuk menciptakannya," ujar Gusti Husien Hamzah, dari kerabat Juriat Kotawaringin, yang menyelenggarakan kegiatan ini, Minggu (28/2/2016) siang.


"Mereka berdiri melingkar di balai itu, bermakna pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan," lanjut Husien.


Dalam balai itu juga disajikan 40 jenis kue atau wadai yang dimasak dengan berbagai cara, digoreng, rebus, kukus, bakar.


Selain itu, juga ada bermacam-macam nasi. Ada nasi kuning dari beras pulut/ketan, nasi lomang (yang dibakar dalam bambu dengan santan), nasi suman (dibakar dalam bambu tanpa santan).


Kemudian dilanjutkan ritual Tampung Tawar, yang bermakna menangkal (menawar) hal-hal buruk dalam kehidupan para pengantin sunat saat dewasa kelak. "Untuk membuang sial. Menjauhkan diri dari sakit (goring), dan fitnah," papar Husien.


Tampung Tawar ditutup dengan Bajajumput atau mencicipi makanan, kue dan berbagai nasi tersebut.Setelah itu, pengantin sunat memasuki proses khitanan.


Kegiatan ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian acara Pekan Budaya Adat Raja Bosar Kotawaringin 2016 yang digelar sejak Senin (22/2/2016). (BUDI BASKORO/m)