Pada suatu malam, suasana terang bulan, diam-diam Kumbang Banaung pergi ke Desa Sanggu untuk menemui Intan. Ia berniat mengajak gadis itu kawin lari.
**********
“Intan, bagaimana kalau kita kawin lari saja,” bujuk Kumbang Banaung.
“Iya Bang, aku setuju! Aku tidak mau menikah dengan orang yang sudah mempunyai anak,” kata Intan.
Setelah merasa keadaan aman, keduanya berjalan mengendap-endap ingin meninggalkan Desa Sangu.
Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba beberapa warga yang sedang meronda melihat mereka.
“Hei, lihatlah! Bukankah itu Kumbang Banaung dan Intan,” kata salah seorang warga.
“Iya, Benar! Sepertinya si Kumbang akan membawa lari si Intan,” imbuh seorang warga lainnya.
Menyadari niatnya diketahui oleh warga, Kumbang dan Intan pun segera berlari ke arah sungai.
“Ayo, kita kejar mereka!” seru seorang warga lagi.
Kumbang Banaung dan Intan pun semakin mempercepat lari mereka untuk menyelamatkan diri. Namun, ketika sampai di sungai, mereka tidak dapat menyeberang. “Bang, apa yang harus kita lakukan! Orang-orang desa pasti akan menghukum kita,” kata Intan dengan napas terengah-engah.
Dalam keadaan panik, Kumbang Banaung tiba-tiba teringat pada piring malawen pemberian ayahnya. Ia pun segera mengambil piring pusaka itu dan melemparkannya ke tepi sungai. Secara ajaib, piring itu tibatiba berubah menjadi besar. Mereka pun menaiki piring itu untuk menyebrangi sungai. Mereka tertawa gembira karena merasa selamat dari kejaran warga.
Namun, ketika sampai di tengah sungai, cuaca yang semula terang, tiba-tiba menjadi gelap gulita.
Beberapa saat berselang, hujan deras pun turun disertai hujan deras dan angin kecang. Suara guntur bergemuruh dan kilat menyambar-nyambar. Gelombang air sungai pun menghatam piring malawen yang mereka tumpangi hingga terbalik.
Beberapa saat kemudian, sungai itu menjelma menjadi danau. Oleh masyarakat setempat, danau itu diberi nama Danau Malawen.
Sedangkan Kumbang Banaung dan Intan dipercaya menjelma menjadi dua ekor buaya putih. Konon, sepasang buaya putih itu menjadi penghuni abadi Danau Malawen. (B-3)
Sumber: Cerita Rakyat Nusantara








