PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bunda PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Ny Noor Hermiyanti Anang Dirjo, terus berupaya menekan angka stunting di Kobar. Salah satunya dengan menggencarkan sosialisasi hingga ke desa. 

"Kami tidak bisa berdiam diri, kami ambil bagian melaksanakan tugas besar untuk menekan angka stunting di Kobar," ujarnya, Rabu, 15 Februari 2023.

Ia menuturkan, sesuai amanat Presiden Joko Widodo dalam rapat koordinasi Nasional pada tanggal 17 Januari 2023 lalu, seluruh kepala daerah diminta berkomitmen dalam menurunkan angka stunting.

Oleh sebab itu, istri Pj Bupati Kobar ini bersama Pokja Bunda PAUD mendorong percepatan penanganan stunting di PAUD melalui tiga program prioritas, yakni unit kesehatan sekolah (UKS), satu desa satu PAUD dan pengembangan anak usia dini holistik integratif (PAUD HI). 

"Sasaran kami untuk menekan angka stunting yakni dengan mendatangi ke desa-desa, mendorong kader PKK agar lebih aktif lagi menghidupkan Posyandu, serta memperkuat ketahanan pangan dengan memanfaatkan pekarangan rumah," sebutnya.

--page

Selain itu juga, dirinya pun mendatangi sekolah Taman Kanak Kanak (TK) dan PAUD yang ada di setiap desa/kelurahan se Kobar. Sekaligus bersosialisasi dan juga memberikan susu dan makanan tambahan bagi anak-anak TK dan PAUD. 

"Kami juga berharap, masyarakat memahami apa itu stunting dan apa penyebab dasar. Sehingga hal ini yang terus kami gencarkan dalam sosialisasi, agar masyarakat tidak salah dalam memahami penderita stunting ini. Stunting bisa dicegah sejak awal pada saat ibu tengah hamil, harus dengan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan baik kesehatan janin dan ibunya," ujar Hermiyanti.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang keliru tentang penderita stunting, bahwa stunting ini sebagai faktor keturunan atau genetik tanpa melakukan pencegahan.

Padahal, faktor genetika sangat kecil pengaruhnya di bandingkan dengan faktor prilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan. 

Hermiyanti juga mengatakan, stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan fisik dan perkembangan otak.

"Penanganan stunting bisa dilakukan melalui pola asuh, pola makan dan perbaikan sanitasi serta akses air bersih. Untuk itu, setiap sekolah bisa berkolaborasi dengan orang tua murid melalui program UKS, dengan menumbuhkan budaya hidup bersih dan sehat," imbuhnya. 

"Penanganan kasus stunting ini bukan saja tanggung jawab pemerintah saja, melainkan perlu dukungan kuat dari elemen masyarakat. Sebab, kita berkewajiban dalam menciptakan generasi penerus yang sehat," pungkasnya. (DANANG/Y)