TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Wakil Bupati Barito Timur Habib Said Abdul Saleh mengungkapkan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Environmental Protection Agency (EPA) sebanyak 24 dari 30 Wanita yang suaminya perokok beresiko tinggi terserang kanker paru-paru.

Data tersebut diungkapkan Wabup saat menyampaikan penjelasan kepala daerah atas pengajuan Raperda tentang Kawasan Tanpa Rokok, dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Barito Timur Nursulistio, Kamis, 16 Februari 2023.

Selain itu dia menyebutkan, Indonesia saat ini berada pada urutan pertama jumlah perokok terbanyak di dunia diikuti dengan India dan Filipina. Walau beragam sosialisasi telah dilakukan
tentang dampak negatif merokok namun tidak lantas mengurangi jumlah perokok di Indonesia.

Survey WHO menunjukkan bahwa 67 persen atau sekitar 57,6 juta pria berusia diatas 15 tahun di Indonesia adalah perokok aktif. Survei ini juga menjelaskan bahwa 2,7 persen atau sekitar 2,3 juta perempuan Indonesia adalah perokok.

"Rokok memberikan efek santai dan sugesti merasa lebih jantan kepada para penggunanya. Namun dibalik kenikmatan rokok yang hanya sedikit itu, terdapat banyak sekali bahaya di dalamnya, baik bagi sang perokok aktif maupun perokok pasif di sekitarnya," kata Wabup.

Asap rokok mengandung kurang lebih 4.000 bahan kimia, 200 di antaranya beracun dan 43 jenis lainnya dapat menyebabkan kanker bagi tubuh. Beberapa zat yang sangat berbahaya yaitu tar, nikotin, karbon monoksida dan lain-lain.

Menurut Wabup, meningkatnya jumlah perokok juga tidak lepas dari iklan rokok yang sangat
masif, baik di televisi maupun yang terpampang bebas di sudut-sudut jalan raya raya. Meskipun dalam iklan tersebut tidak menunjukkan secara langsung bentuk rokok atau aktivitas merokok tetapi itu justru malah membuat masyarakat menjadi penasaran ingin merokok.

Selain itu, iklan rokok sebagai sponsor acara olahraga dan sebagainya membuat kesan positif masyarakat terhadap rokok dan meningkatkan penjualan rokok.

Kebiasaan merokok sangat membahayakan baik ditinjau dari segi pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Namun pemerintah saat ini tidak memungkinkan untuk melarang peredaran rokok.

"Yang menjadi polemik saat ini adalah banyak orang yang mendukung larangan merokok tetapi pemerintah dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Tidak mudah bagi pemerintah untuk melarang peredaran rokok, pasalnya perusahaan rokok penyumbang menyumbang devisa bagi paling besar bagi negara," ungkap Wabup.

--page

Karena itu Kawasan Tanpa Rokok sudah menjadi keharusan bagi suatu daerah dan memerlukan dukungan serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan di daerah, khususnya di bidang kesehatan.

"Pemberlakuan Kawasan Tanpa Rokok ini dibuat agar penegakannya dapat berjalan lebih baik dengan didukung aturan yang lebih tegas untuk memberikan efek jera dan meningkatkan kepatuhan bagi masyarakat di Barito Timur sehingga masyarakat terlindung dari paparan bahaya asap rokok," tegas Wabup. (BOLE MALO/R)