MARTAPURA - Berkurangnya jumlah perusahaan batu bara yang beroperasi di Kabupaten Banjar membuat perekonomian di bumi Barakat kian melesu.
Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Banjar mencatat, sebelumnya terdapat belasan prusahaan tambang batu bara yang beroperasi, kini, tersisa hanya delapan saja.
“Memasuki bulan kedua tahun 2016 hanya ada 8 perusahaan yang aktif, menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya yang mencapai belasan perusahaan,” ungkap Kepala Bidang Pengawasan Pertambangan dan Energi Distamben Banjar, Sufrianto, Senin (29/2/2016)
Menurutnya, penurunan jumlah perusahaan batu bara yang beroperasi di Kabupaten Banjar disebabkan karena harga jual batu bara di pasar luar negeri menurun, sehingga membawa dampak besar terhadap perusahaan batu bara di nusantara termasuk Kabupaten Banjar.
Meski terjadi penurunan jumlah perusahaan batu bara yang beroperasi, namun jumlah royalti dari komoditas batu bara justru meningkat. Menurut data Dinas Pendapatan Kabupaten Banjar pada tahun 2014 nilai royalti dari pusat terkucur Rp166,9 miliar.
Sementara pada tahun 2015 meningkat menjadi Rp235,8 miliar. Diperkirakan pada tahun 2016 nilai royalti juga turut terkerek.
“Namun, kami menduga banyaknya royalti itu karena adanya kelebihan pembayaran dari pusat seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, juga ada kelebihan,” tukas Sufrianto.
(ANT/B-12)








