PENGAWASAN terhadap pendataan dan pendistribusian beras untuk orang miskin (raskin) yang tidak maksimal menyebabkan peluang banyak kecolongan.
Terbukti, penyaluran raskin kerap kali tidak tepat sasaran. Selain tersalur kepada yang tidak berhak, ternyata ada yang lebih parah lagi, karena sebagian malah dijual.
Kekecewaan inilah yang disampaikan Wakil Wali Kota Palangka Raya, Mofit Saptono Subagio saat digelarnya Rapat Pelaksanaan Raskin/Rasta Tahun 2016 yang berlangsung di ruang Rapat Peteng Karuhei Balai Kota Palangka Raya, Senin (29/2/2016).
Kekesalan Mofit, lantaran dirinya melihat sendiri raskin yang dijual di pasar. Sehingga bukan tanpa alasan ia mengimbau aparatur yang berkaitan dengan pendataan Raskin tidak main mata sehingga salah sasaran.
“Saya sendiri pernah mendapati beras raskin yang dijual di salah satu pasar di Palangka Raya. Mereka membawa dengan menggunakan mobil. Ini bikin miris melihatnya,” ungkap Mofit.
“Saya juga minta kepada Bulog untuk lakukan penyelidikan hal tersebut dari mana sumbernya. Jangan sampai beras dari uang negara tersebut disalahgunakan. Saya sedih kenyataan ini, kenapa beras miskin bisa dijual,” tambahnya.
Sementara di tempat yang sama, Kepala Bagian (Kabag) Kesra Setda Kota Palangka Raya M Yusuf membeberkan, pada 2016 ini jumlah rumah tangga sasaran terima manfaat (RTSTM) se-Kota Palangka Raya mencapai 5.583 RTS.
Hanya saja, jumlah itu masih tetap seperti tahun 2015 lalu tanpa ada perubahan. Artinya jumlah warga miskin tidak berkurang.
Pembagian raskin ini, setiap RTS mendapatkan 15/kg per bulan dengan harga tebus Rp1.600 /Kg.
Ia pun mengatakan pertemuan bertujuan melakukan pemutakhiran data rumah tangga sasaran (RTS). Harapannya, data penerima Raskin semakin valid dan menjadi acuan RTS tahun 2016.
“Forum ini diharapkan mengetahui data terbaru apakah ada penambahan atau pengurangan jumlah rakyat miskin, dan bisa mencapai kata sepakat untuk titik distribusi raskin/rasta di Kota Palangka Raya,” (RZ/B-12)


